Komentar Tito Soal Bantuan Malaysia Picu Teguran Pedas dari Mantan Menlu Negeri Jiran

- Jumat, 19 Desember 2025 | 13:00 WIB
Komentar Tito Soal Bantuan Malaysia Picu Teguran Pedas dari Mantan Menlu Negeri Jiran

TITO BIKIN MALU RAKYAT INDONESIA!

SHAME ON YOU TITO!

Gara-gara satu pernyataan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kini jadi sorotan tajam. Bukan cuma di dalam negeri, tapi juga sampai ke tetangga. Intinya, dia menyebut sumbangan Malaysia untuk korban bencana di Sumatera itu ‘tak seberapa’. Kata-kata itu langsung nyebar, memantik reaksi yang nggak tanggung-tanggung.

Dari seberang Selat Malaka, respons keras datang. Mantan Menteri Luar Negeri Malaysia, dengan nada yang jelas-jelas kesal, menyerukan agar Tito ‘sekolah lagi’. Tujuannya? Biar paham soal etika dan adab dalam pergaulan antar negara. Kritik itu terdengar pedas, dan bikin suasana jadi serba salah.

Semua ini berawal dari sebuah podcast. Di sana, Tito sedang berbicara soal penanganan bencana.

“Ya saya langsung mendengar ada dari Malaysia pengusaha yang ingin membantu obat-obatan. Setelah dikaji nilainya gak sampai 1 miliar. Kita punya anggaran lebih daripada itu. Jadi jangan sampai imejnya seolah mendapat bantuan dari negara lain, padahal gak seberapa, dibanding kemampuan negara kita lebih dari itu,”

Begitu kira-kira ucapannya. Niatnya mungkin mau menunjukkan ketangguhan fiskal Indonesia. Tapi caranya yang dianggap kurang pas. Bagi banyak yang mendengar, nada itu terkesan meremehkan, bahkan tidak menghargai niat baik yang diberikan.

Di sisi lain, video tanggapan dari eks Menlu Malaysia itu pun beredar luas. Isinya jelas: sebuah teguran diplomatik yang jarang kita dengar secara terbuka seperti ini.

Sementara itu, rekaman pernyataan asli Tito juga terus dibahas orang. Menurut sejumlah pengamat, persoalannya bukan pada angka, tapi pada rasa. Dalam hubungan bertetangga, gesture sekecil apapun punya makna yang dalam.

Kini, pernyataan itu sudah terlanjur meluncur. Efeknya? Malu. Bukan cuma untuk si pembicara, tapi bagi banyak rakyat Indonesia yang merasa gerah dengan komentar yang dianggap arogan itu. Pertanyaannya sekarang, bagaimana langkah berikutnya untuk meredakan situasi yang sudah memanas ini?

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar