Trotoar di Jalan DI Panjaitan, Cawang, ibarat sarang laba-laba raksasa yang terlupakan. Kabel-kabel menjuntai semrawut, dari ujung jalan sampai ke ujung lainnya. Beberapa menggantung begitu rendah, hampir menyapu kepala orang yang lewat. Yang lain tergeletak begitu saja di tanah, bahkan ada yang tercebur ke dalam selokan, membentang persis di jalur pejalan kaki.
Tak cuma ganggu pejalan kaki. Di depan gerbang masuk sebuah gedung, tumpukan kabel itu menggantung rendah. Mobil-mobil besar yang mau masuk harus ekstra hati-hati, kalau nggak mau nyangkut. Di sisi lain, pohon-pohon di tepi jalan pun ikutan jadi korban. Ranting dan dedaunan diselimuti oleh kabel-kabel yang sudah bersinggungan lama, seolah jadi bagian dari alam.
Kondisi ini bikin warga sekitar resah. Seperti Frisco, yang merasa situasi ini sudah keterlaluan. Menurutnya, penataan ulang dan perbaikan mendesak untuk dilakukan.
“Harus dong, diperbaiki,” tegasnya.
Alasannya jelas: estetika dan keselamatan. “Pertama, kan estetikanya jelek. Kedua, ya untuk keselamatan pejalan kaki juga,” ujar Frisco.
Kekhawatirannya lebih jauh. Kabel-kabel yang sudah menyatu dengan pohon itu dinilainya berpotensi bahaya. Bayangkan kalau ada angin kencang dan pohon tumbang. Bisa-bisa kabelnya ikut terbawa, menimpa siapa saja di bawahnya.
“Musim begini kan cuaca nggak menentu, angin kencang bisa aja,” katanya.
“Iya, takut ketimpa pohon. Amit-amit deh,” tambahnya prihatin.
Frisco menegaskan, vendor pemasang kabel harus segera bertanggung jawab. “Keadaan begini ‘kan vendor-vendor harusnya tanggung jawab. Ini ada kabel TV, banyak lah. Harus ditata ulang,” desaknya.
Keresahan serupa diungkapkan Erwin, seorang pekerja di kawasan itu. Ia menyoroti soal kesadaran dari pemilik kabel.
“Itu ‘kan bukan kabel listrik, tapi kabel data atau telkom. Kalau putus, ya mereka yang rugi, bukan kita,” ucap Erwin.
“Mestinya mereka sadar diri, gitu,” sambungnya.
Menurut Erwin, persoalan ini butuh intervensi regulasi yang lebih tegas. Perlu ada aturan yang menjerat pemilik kabel yang membiarkan instalasinya semrawut. “Regulasinya juga harus dibenerin,” katanya.
“Kalau terbukti melanggar, ya disanksi. Sederhana saja,” pungkas Erwin.
Jadi begitulah faktanya. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Timur, masalah klasik ini masih terpampang nyata, menunggu tindakan nyata sebelum benar-benar menimbulkan malapetaka.
Artikel Terkait
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1