Dua pria yang diduga sebagai pelaku penembakan di Pantai Bondi, Sydney, ternyata sempat menghabiskan waktu hampir sebulan di Filipina. Polisi Australia mengungkap perjalanan mereka terjadi antara 1 hingga 28 November lalu. Namun begitu, pihak Keamanan Nasional Filipina langsung angkat bicara. Mereka mengakui kedatangan kedua pria itu, tapi dengan tegas membantah ada pelatihan militer apa pun yang diberikan kepada mereka di sana.
Menurut penasihat Keamanan Nasional Filipina, Eduardo Ano, klaim bahwa kunjungan singkat itu untuk latihan teroris sangatlah lemah. Durasi tinggal mereka, kata Ano, tidak memungkinkan untuk sebuah pelatihan yang terstruktur atau punya makna signifikan.
“Sisa-sisa kelompok ini telah terpecah, kehilangan kepemimpinan, dan mengalami penurunan kemampuan,” jelas Ano, merujuk pada kondisi kelompok ekstremis pasca-pengepungan Marawi 2017 yang lalu.
Di sisi lain, pemerintah Filipina sendiri tengah bekerja sama dengan otoritas Australia untuk menyelidiki tujuan sebenarnya dari kunjungan itu. Ano juga menyanggah keras gambaran media yang menyebut Filipina selatan sebagai sarang ekstremisme. Menurutnya, narasi seperti itu sudah usang dan cuma menyesatkan publik.
Sebelumnya, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memang menyebut pelaku terpapar ideologi ISIS. Tapi apa yang sebenarnya mereka lakukan di Filipina?
Artikel Terkait
PPATK Dibanjiri 43 Juta Laporan, Nilai Transaksi Mencurigakan Tembus Rp 2.085 Triliun
Pompa Raksasa di Daan Mogot Dijanjikan Tuntaskan Banjir pada 2027
Rita Pasaraya Cilacap Hangus Dilahap Si Jago Merah, Diduga Bermula dari Korsleting
Prabowo Undang Ormas Islam Bahas Peran Indonesia di Dewan Perdamaian