Padahal, realitas di lapangan berbeda. Banyak negara bagian sudah melonggarkan aturan mereka sendiri. Ganja dipakai untuk keperluan medis, bahkan rekreasi, di sejumlah wilayah. Ini menciptakan kesenjangan yang aneh antara hukum federal dan aturan lokal.
Di sisi lain, masalah pendanaan jadi tantangan nyata bagi pelaku usaha ganja. Karena status federalnya yang ketat, bank-bank besar dan investor institusional ogah-ogahan masuk. Akibatnya, produsen terpaksa mencari pinjaman dengan bunga tinggi atau bergantung pada sumber dana alternatif yang tak selalu jelas.
Meski wacananya sudah mengudara, tampaknya belum ada keputusan final. Pejabat Gedung Putih sendiri mengaku prosesnya masih berjalan. Belum ada lampu hijau.
Perlu diingat, rencana klasifikasi ulang ini sebetulnya bukan hal baru. Prosesnya sudah dirintis sejak pemerintahan Joe Biden tahun lalu. Saat itu, Biden meminta Kementerian Kesehatan untuk meninjau ulang status ganja. Hasil tinjauan itu? Rekomendasi agar ganja dipindah ke Golongan III.
Sekarang, bola ada di pengadilan Badan Penegakan Narkoba atau DEA. Mereka yang harus meninjau rekomendasi tadi dan akhirnya memutuskan. Apakah status ganja akan benar-benar berubah? Kita tunggu saja.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral