Gerakan Infak Jum’at Muhammadiyah membuktikan satu hal: kebersamaan itu punya kekuatan nyata. Bayangkan, terkumpul dana sekitar Rp70 miliar. Jumlah itu bukan datang sekali, tapi mengalir terus dari jamaah di berbagai lini organisasi. Mulai dari masjid, sekolah, kampus, sampai rumah sakit. Semuanya bergerak.
Menurut sejumlah saksi, aksi penggalangan dana ini lahir sebagai respons cepat. Krisis kemanusiaan akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan kian menjadi-jadi. Nah, di sinilah semangat fastabiqul khairat itu benar-benar terlihat. Bukan cuma jadi wacana, tapi menjelma jadi gerakan sosial yang terorganisir. Konsisten, dan direncanakan untuk jangka panjang.
Memang, kalau dibandingkan kerugian bencana yang mencapai triliunan, angka Rp70 miliar mungkin terlihat kecil. Namun begitu, manfaatnya di lapangan justru sangat terasa. Dana itu dipakai untuk hal-hal yang langsung menyentuh kebutuhan mendesak.
Artikel Terkait
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL
Polairud Buka Jalur Pelayaran Muara Angke yang Tersumbat
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi