Selasa (16/12) lalu, suasana di Jimmy Hantu Foundation, Tamansari, Bogor, terlihat berbeda. Di sana, aktivitas rumah produksi dan peternakan berjalan beriringan. Yang menarik, sisa-sisa dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sama sekali tidak berakhir di tempat sampah.
Alih-alih dibuang, makanan sisa itu justru diolah. Mereka mengubahnya menjadi pupuk dan pakan ternak. Kuncinya ada pada budidaya maggot, atau larva lalat tentara hitam. Inilah jantung dari penerapan konsep "zero waste" di tempat itu.
Namun begitu, upaya ini bukan cuma soal daur ulang limbah. Ada tujuan yang lebih luas. Dengan mengolah sisa makanan, mereka mengoptimalkan pengurangan emisi gas rumah kaca khususnya gas metana yang biasa terlepas dari tumpukan sampah organik membusuk.
Dengan begitu, pengurangan emisi ini berpotensi masuk ke dalam mekanisme perdagangan karbon di pasar sukarela. Sebuah langkah yang cerdas, mengubah limbah jadi nilai tambah.
Sayangnya, jalan menuju monetisasi ini tak semulus yang dibayangkan. Menurut Dian Fatwa, Juru Bicara BGN, selama ini upaya pengurangan emisi dari limbah makanan masih belum optimal dan terstruktur.
“Selama ini pengurangan emisi dari limbah makanan belum dioptimalkan dan belum terstruktur sehingga belum dapat dimonetisasi melalui perdagangan karbon,” ujarnya.
Jadi, meski teknologinya ada, tantangannya justru pada bagaimana menyusun dan mengukur upaya itu secara rapi. Agar nantinya, setiap pengurangan emisi punya nilai yang jelas di pasar karbon.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu