Untungnya, situasi sudah mulai mereda. Pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan keluarga kedua belah pihak dan perangkat desa. Mereka akhirnya sepakat untuk berdamai.
“Mediasi kami lakukan di rumah orang tua FKI, Senin malam sekitar pukul setengah sepuluh. Hasilnya, kedua keluarga memilih menyelesaikan ini secara kekeluargaan,” ucap Bastari.
Meski kasusnya sudah didamaikan, Bastari tetap menyampaikan imbauan keras. Dia mengingatkan, menyelesaikan masalah dengan kekerasan itu bukan jalan yang benar. Apalagi di usia mereka. Tindakan seperti itu tetap bisa berujung ranah hukum, sekalipun pelakunya masih di bawah umur.
“Anak-anak harus bisa mengendalikan emosi. Jangan gampang terpancing. Kekerasan cuma akan menambah masalah, merugikan diri sendiri dan orang lain,” pesannya.
Di sisi lain, Bastari juga menyoroti peran orang tua. Pengawasan terhadap pergaulan anak, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, harus lebih ditingkatkan. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak adalah kunci utama.
“Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan anak. Awali dengan percakapan, bukan penghakiman. Penggunaan media sosial juga perlu diawasi, sambil terus ditanamkan nilai-nilai saling menghargai,” tutupnya.
(Yul/Lua)
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral