Dapur Bogor yang Menyantuni 8.000 Siswa dan Menggerakkan Petani Lokal

- Selasa, 16 Desember 2025 | 16:36 WIB
Dapur Bogor yang Menyantuni 8.000 Siswa dan Menggerakkan Petani Lokal

Pagi di SPPG Mutiara Keraton Solo, Tamansari, Bogor, dimulai dengan ritme yang teratur. Deretan wadah makanan ompreng berjejer rapi di lantai dasar, menunggu untuk diisi. Suasana hening, tapi sarat energi.

Sebelum memasuki area produksi, ada protokol ketat. Semua orang wajib pakai sarung tangan, masker, dan penutup rambut. Baru setelah itu, kita bisa menyusuri ruang demi ruang di lantai ini.

Ruang produksi basah, area pemilahan sampah plastik dan kertas, semuanya tertata fungsional. Tata letaknya dirancang untuk mendukung kerja sebuah dapur berskala besar, di mana efisiensi dan kebersihan adalah hal utama.

Menu hari Selasa (16/12) itu sederhana: nasi, sayur tauge, lele goreng, tempe, dan susu. Tapi rasanya akrab di lidah. Di ruang pemorsian, para pekerja dengan cekatan membagi makanan ke dalam ompreng. Mereka memastikan porsi dan susunannya pas. Aktivitas berlangsung cepat dan hampir tanpa suara, mengejar waktu agar distribusi ke sekolah tidak terlambat.

Dapur ini dikelola Jimmy Hantu Foundation, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pertanian dan sosial. Prinsip mereka jelas: mengutamakan bahan baku lokal. Hal ini bukan sekadar slogan, tapi benar-benar diterapkan.

Pengelolanya, Sujimin yang lebih dikenal sebagai Jimmy Hantu menegaskan komitmen itu.

“Ya, sekitar 90% bahan kami lokal. Targetnya sih harus 100%. Kami sengaja tidak mau ambil bahan dari luar. Ini kan program negeri Indonesia, masa keuntungannya malah dinikmati pihak lain?”

Menurut Jimmy, program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya punya dampak yang lebih luas. Bukan cuma berhenti di dapur, tapi harus menyentuh rantai pasok dan menguntungkan petani lokal.

“Justru yang paling diuntungkan harusnya petani. Bukan pemilik dapur. Uang terbesar itu kan untuk beli bahan makanan, dan bahan itu harusnya dari lokal. Ini perlu kita sikapi bersama. Rantai pasok untuk kearifan lokal harus benar-benar jalan.”

Dampaknya ternyata sudah mulai terasa. Beberapa komoditas yang dulu kurang laku, sekarang punya nilai ekonomi karena masuk ke rantai pasok MBG.

“Sirkular ekonominya jadi tinggi. Dulu siapa yang kenal daun kelor? Sekarang laris. Atau pokcoy, yang tadinya orang malas nanam, sekarang jadi pada tanam karena ada yang beli.”

Bahkan kebiasaan warga sekitar berubah. Skalanya mungkin masih kecil, tapi ada geliat.

“Contohnya, yang tadinya nggak mau ternak ayam, sekarang mau juga meski cuma satu dua ekor,” ujarnya.

Sebenarnya, sebelum terjun ke program Badan Gizi Nasional (BGN), yayasan ini sudah lebih dulu punya program Cegah Stunting. Anak-anak dengan kondisi stunting dikumpulkan dan diberi makan langsung setiap harinya.

“Jadi sebelum ada BGN, kami sudah punya rumah Cegah Stunting. Gratis. Setiap hari kami kasih makan dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang.”

Pendekatan langsung semacam ini, kata Jimmy, hasilnya beda dibanding sekadar bagi-bagi bahan pangan.

“Hasilnya? Dalam bulan pertama saja, 57% anak yang ditangani sudah dinyatakan normal, lepas dari kondisi stunting.”

Kembali ke urusan dapur, higienitas dan kualitas bahan adalah harga mati. Semua bahan harus segar dan melalui pemeriksaan ketat.

“Proses masak kami, semua bahan baku fresh. Kalau nggak fresh, saya nggak mau. Kami pakai alat tes, cek nitrit-nya dulu,” tegas Jimmy.

Proses memasaknya sendiri dimulai setelah tengah malam. Pemorsiannya baru dilakukan menjelang subuh.

“Masaknya mulai jam 12 malam. Pemorsiannya sekitar jam 4 sampai 5 pagi.”

Distribusinya disesuaikan kebutuhan sekolah. Bahkan ada yang minta lebih pagi karena permintaan orang tua.

“Kadang ada orang tua bilang, ‘Pak, anak saya belum sarapan, bisa dikirim lebih awal?’ Ya sudah, kami usahakan,” ceritanya.

Dapur ini juga didukung tenaga profesional. Ada ahli gizi dan belasan chef yang semuanya memiliki jaminan kesehatan.

“Ahli gizi ada. Chef di sini ada 12 orang. Dan dari awal kami pastikan mereka semua punya BPJS.”

Kini, SPPG Mutiara Keraton Solo melayani 25 sekolah dengan sekitar 8.000 porsi per hari. Bahan bakunya dipasok mitra lokal, termasuk peternak lele di sekitar lokasi.

“Lele harus dari sini sekitar. Kalau dari jauh, dipotong lalu dibawa lebih dari 3 jam, bisa bau. Saya tokal kalau begitu.”

Di sisi lain, limbah dapur pun dikelola. Diarahkan agar bisa masuk kembali ke siklus produksi, misalnya untuk pakan ternak.

Dengan dapur yang terus beroperasi dan jaringan petani lokal yang terhubung, SPPG ini menjadi contoh nyata. Program makan bergizi tak hanya mengisi piring anak sekolah, tapi juga menggerakkan roda ekonomi di sekitarnya. Sebuah ekosistem yang saling menguatkan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler