Sebenarnya, sebelum terjun ke program Badan Gizi Nasional (BGN), yayasan ini sudah lebih dulu punya program Cegah Stunting. Anak-anak dengan kondisi stunting dikumpulkan dan diberi makan langsung setiap harinya.
Pendekatan langsung semacam ini, kata Jimmy, hasilnya beda dibanding sekadar bagi-bagi bahan pangan.
Kembali ke urusan dapur, higienitas dan kualitas bahan adalah harga mati. Semua bahan harus segar dan melalui pemeriksaan ketat.
Proses memasaknya sendiri dimulai setelah tengah malam. Pemorsiannya baru dilakukan menjelang subuh.
Distribusinya disesuaikan kebutuhan sekolah. Bahkan ada yang minta lebih pagi karena permintaan orang tua.
Dapur ini juga didukung tenaga profesional. Ada ahli gizi dan belasan chef yang semuanya memiliki jaminan kesehatan.
Kini, SPPG Mutiara Keraton Solo melayani 25 sekolah dengan sekitar 8.000 porsi per hari. Bahan bakunya dipasok mitra lokal, termasuk peternak lele di sekitar lokasi.
Di sisi lain, limbah dapur pun dikelola. Diarahkan agar bisa masuk kembali ke siklus produksi, misalnya untuk pakan ternak.
Dengan dapur yang terus beroperasi dan jaringan petani lokal yang terhubung, SPPG ini menjadi contoh nyata. Program makan bergizi tak hanya mengisi piring anak sekolah, tapi juga menggerakkan roda ekonomi di sekitarnya. Sebuah ekosistem yang saling menguatkan.
Artikel Terkait
Pemerintah Kaji Pemotongan Gaji Pejabat hingga Anggota DPR
Pemerintah Imbau Open House Lebaran Dilaksanakan Secara Sederhana
Remaja Tewas, Dua Luka Berat dalam Tabrakan Motor di Pandeglang
Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Soal Desain Matang Jika WFH Dilanjutkan