Jakarta – Puncak musim Ramadan di Tanah Suci selalu jadi momen yang paling ramai. Tahun ini, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan peringatan khusus untuk para jemaah umrah, terutama yang berasal dari Indonesia. Intinya, mereka diminta jeli memeriksa paket layanan yang dibeli. Soal katering, kebersihan makanan, dan yang paling krusial: kepastian akomodasi hotel. Jangan sampai sudah sampai di sana, malah bingung mau menginap di mana.
Imbauan ini bukan tanpa alasan. Lonjakan jumlah jemaah selama Ramadan memang luar biasa. Tanpa pengaturan yang ketat, kekacauan bisa saja terjadi. Pemerintah Saudi, lewat Kementerian Haji dan Umrahnya, ingin memastikan keamanan dan kenyamanan semua tamu Allah.
Di Indonesia, Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Puji Raharjo, turut menjelaskan kebijakan ini.
“Intinya, Arab Saudi ingin semua jemaah dapat layanan yang pasti, tidak abu-abu. Makanya, para Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah atau PPIU wajib patuh pada ketentuan yang sudah ditetapkan,” jelas Puji dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/2/2026).
Lalu, ketentuan seperti apa yang dimaksud? Setidaknya ada tiga poin utama yang harus dipenuhi penyelenggara.
Pertama, soal katering. Rincian layanan makan harus dicantumkan dengan jelas di paket. Ini untuk menjamin jemaah tidak kekurangan konsumsi selama di Arab Saudi.
Kedua, sangat dilarang memberangkatkan jemaah dengan paket umrah yang tidak riil atau belum disetujui. Semua komponen layanan utama harus tercakup. Tujuannya jelas: menjaga keselamatan dan mutu pelayanan.
“Kami minta semua penyelenggara segera menyesuaikan paketnya. Jangan sampai ada jemaah berangkat tanpa kepastian hotel, makan, atau layanan dasar lainnya,” tegas Puji Raharjo.
Ketiga, penyelenggara wajib berkoordinasi dengan mitra di Arab Saudi untuk memastikan kondisi jemaah. Bukti pemesanan hotel pun harus resmi, terdaftar di otoritas pariwisata setempat. Tidak boleh asal comot.
Di sisi lain, pengawasan memang akan diperketat, terutama saat Ramadan nanti. Direktur Bina Haji Khusus dan Umrah, Akhmad Fauzin, menambahkan bahwa kebijakan ini sekaligus untuk mendisiplinkan operasional PPIU di Indonesia.
“Lonjakan jemaah itu luar biasa. Arab Saudi ingin semuanya tertib dan akomodasinya jelas. Ini juga upaya mencegah beredarnya paket umrah yang tidak realistis, harganya miring tapi layanannya jeblok,” ungkap Akhmad.
Ia pun berpesan kepada calon jemaah. Pilihlah PPIU yang resmi dan punya izin. Pastikan paket yang ditawarkan sudah komplet: tiket, hotel, transportasi, makan, plus layanan pendukung. Jangan tergiur harga murah yang malah menimbulkan masalah di kemudian hari.
Harapannya, dengan aturan yang lebih ketat ini, kualitas pelayanan umrah bisa naik. Ibadah di bulan suci pun bisa berjalan dengan tenang, aman, dan nyaman untuk seluruh jemaah Indonesia.
Penulis: Lidya Thalia.S
Editor: Redaktur
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Ajak Fatayat NU Bersama Cegah Kekerasan di Lingkungan Pesantren
Autopsi Ungkap Balita di Bekasi Tewas dengan 32 Luka Tusuk, Pelaku Paman Korban yang Emosi Saat Bermain Gim
Imigrasi Peringatkan Maraknya Penipuan Digital Mengatasnamakan Layanan Resmi, Minta Publik Hanya Akses Kanal Terpercaya
Polda Metro Buka Posko Pengaduan Korban Dugaan Penipuan Umrah Hanania Travel