Lima Nelayan Bertaruh Nyawa Tiga Jam di Tengah Amukan Ombak Bali

- Selasa, 16 Desember 2025 | 10:54 WIB
Lima Nelayan Bertaruh Nyawa Tiga Jam di Tengah Amukan Ombak Bali

Ombak besar menghantam sebuah jukung nelayan di Perairan Nusa Dua, Bali, Senin (15/12) petang. Kejadiannya sekitar pukul enam sore waktu setempat. Lima orang yang ada di atas perahu tradisional itu pun terlempar, terombang-ambing di laut gelap selama hampir tiga jam.

Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Nyoman Sidakarya, kabar soal perahu yang terbalik itu baru sampai ke timnya setengah jam setelah kejadian. "Informasi jukung terbalik kami terima 30 menit setelah kejadian dari nelayan setempat," jelasnya, Selasa (16/12).

Operasi penyelamatan langsung dihadang tantangan berat. Hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi membuat proses pertolongan jadi sangat sulit. Cuaca malam itu benar-benar ganas.

Nyoman Sidakarya pun memberi instruksi tegas. Keselamatan personel penyelamat harus jadi prioritas utama. Tim diminta memantau dari jarak yang aman sambil menunggu celah untuk bertindak.

Namun begitu, upaya tak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil. Tepat pukul sembilan malam, kelima nelayan berhasil dievakuasi dan dibawa ke daratan dengan selamat.

"Evakuasi malam hari di tengah lautan dengan keadaan menantang bahaya terpaksa dilakukan," ujar Sidakarya. "Demi memperjuangkan peluang korban bisa ditemukan selamat."

Para korban yang selamat itu adalah I Wayan Rawan Atmaja (65 tahun), I Made Sudarna (43 tahun), Saiful (35 tahun), Mangku Desel (50 tahun), dan Agung Adi atau yang akrab disapa Jelih (28 tahun).

Melalui kejadian ini, Sidakarya mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama di musim hujan seperti sekarang. Nelayan diimbau untuk selalu memeriksa kondisi perahu dan memperhatikan peringatan cuaca dari BMKG sebelum melaut.

"Pemerintah melalui BMKG telah memberikan peringatan agar masyarakat menghindari aktivitas di lautan, mengingat masih adanya bibit siklon 93S," tegasnya.

Kondisi itu, lanjutnya, jelas membawa dampak buruk. Cuaca ekstrem bisa terjadi kapan saja, termasuk di sekitar perairan Bali dan sekitarnya. Lebih baik mencegah, bukan?

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar