Yang menarik, Naveed ternyata bukan nama yang asing sama sekali bagi intelijen Australia. Sejak 2019, pemuda itu sudah masuk dalam radar pengawasan. Namun begitu, dia tak pernah dianggap sebagai ancaman serius yang perlu diwaspadai.
“Ketika itu dia tak nampak sebagai sosok patut dicurigai,” jelas Albanese, mengakui bahwa sinyal bahaya itu terlewat.
Saat ini, Naveed yang berusia 24 tahun terbaring koma di sebuah rumah sakit. Keadaannya masih sangat kritis. Aparat tak main-main; mereka menempatkan penjagaan ketat di sekeliling fasilitas kesehatan tersebut, memastikan tidak ada gangguan lebih lanjut.
Di sisi lain, masyarakat Australia masih berusaha memulihkan diri. Duka mendalam terasa, sementara pertanyaan tentang bagaimana teror bisa terjadi di tengah mereka masih menggantung. Investigasi tentu masih berlanjut, mencari setiap kepingan puzzle yang tersisa.
Artikel Terkait
Jenazah Wagub Sulbar Tiba di Jakarta, Akan Dimakamkan di Kalibata
Rakornas 2026: Titik Temu Pusat dan Daerah untuk Pacu Indonesia Emas 2045
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama