Korban jiwa dalam insiden mengerikan di Pantai Bondi, Sydney, terus bertambah. Dari data terbaru yang dirilis kepolisian, kini angka kematian mencapai 15 orang, ditambah satu pelaku penembakan. Sebelumnya, jumlah korban yang disebutkan baru sepuluh orang.
Rentang usianya sungguh memilukan. Dari yang masih belia, 10 tahun, hingga seorang kakek berusia 87 tahun, menjadi korban keganasan yang terjadi di hari Minggu itu. Informasi ini dikonfirmasi dari laporan AFP pada Senin (15/12).
Namun begitu, satu pertanyaan besar masih menggantung: apa motif di balik semua ini? Hingga saat ini, polisi belum memberikan kejelasan.
Di tengah keputusasaan, muncul sebuah cerita tentang keberanian yang menyalakan secercah harapan. Seorang warga, direkam video saat ia nekat menjatuhkan dan melucuti senjata pria bersenjata itu. Aksinya dipuji-puji, banyak yang menyebutnya pahlawan karena jelas telah menyelamatkan nyawa orang lain.
Rekaman yang viral di media sosial itu menunjukkan pria berkemeja putih disebut media lokal sebagai Ahmed al Ahmed (43), seorang pedagang buah berlari kencang di area parkir. Tanpa ragu, ia menerjang dari belakang seorang pria berkemeja gelap yang sedang membawa senapan.
Dengan gerakan cepat, ia berhasil menjatuhkan pelaku. Senapan itu direbutnya, lalu diarahkan kembali ke pria bersenjata tersebut, melumpuhkan ancamannya.
Keaslian momen dramatis ini telah diverifikasi. Reuters, setelah memeriksa rekaman pendukung dan mencocokkan pakaian yang dikenakan, memastikan bahwa pria bersenjata dalam video itu adalah orang yang sama yang kemudian dikepung oleh polisi.
Menanggapi tragedi yang menewaskan 15 orang ini, Perdana Menteri Anthony Albanese bersikap tegas. Ia menyatakan pemerintah akan merevisi undang-undang senjata api, membuatnya lebih ketat.
Pelakunya sendiri adalah seorang ayah dan anak. Mereka menembaki kerumunan orang yang sedang merayakan Hanukkah di pantai itu pada Minggu malam.
Fakta yang mencengangkan datang dari kepolisian. Salah satu pelaku, yang berusia 50 tahun, ternyata memiliki izin legal untuk memiliki enam senjata api. Senjata-senjata inilah yang diduga digunakan dalam penembakan massal tersebut.
Albanese menekankan, aturan yang lebih keras mutlak diperlukan. Salah satu poinnya adalah membatasi jumlah senjata yang boleh dimiliki satu individu.
"Pemerintah siap mengambil tindakan apa pun yang diperlukan, termasuk kebutuhan UU senjata yang lebih ketat," tegas Albanese kepada para wartawan.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali