Workshopnya sendiri berjalan cukup cair, kombinasi diskusi dan praktik menulis langsung. Dua fasilitator, Yulizar Lubay dan Iin Mutmainah, mendampingi para peserta. Dari mulai menggali cerita rakyat yang cocok, sampai menyusunnya jadi sebuah cerpen yang utuh dan enak dibaca.
Yulizar Lubay, salah satu fasilitator, menekankan satu hal penting.
“Di sini, peserta nggak cuma menyalin ulang cerita rakyat begitu saja,” ujarnya.
“Mereka harus melakukan reinterpretasi. Baca ulang, pahami nilai dasarnya, lalu kemas lagi dengan sudut pandang mereka sebagai penulis muda. Jadinya lebih kontekstual.”
Di sisi lain, workshop ini cuma satu bagian dari kegiatan. Mereka juga merangkaikannya dengan lomba penulisan cerpen. Karya-karya terbaik rencananya akan dibukukan dalam sebuah antologi. Ini sekaligus jadi dokumentasi nyata dari upaya pelestarian cerita rakyat dan budaya Lampung.
Pada akhirnya, program Alih Wahana ini punya dua tujuan yang saling terkait. Di satu sisi, untuk meningkatkan literasi sastra di kalangan muda. Di sisi lain, ya, untuk menghidupkan kembali cerita rakyat melalui media tulis yang lebih adaptif. Biar tradisi nggak hilang ditelan zaman, tapi justru bisa mengalir mengikuti arusnya.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions