Hal lain yang membuatnya bersyukur adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya. Ia tersenyum malu saat bercerita.
“Hari-hari di rumah makan ikan saja kalau tidak ya makan bubur, makan ayam kalau ada uang lebih. Sekarang bisa makan sayur, ikan, ayam setiap hari, senang banget,”
jelasnya penuh rasa syukur.
Rasa terima kasihnya ia sampaikan kepada para penggagas program ini.
“Pak Prabowo, terima kasih sudah masukkan kami ke Sekolah Rakyat. Kami berterima kasih sangat banyak karena tidak perlu dibayar, gratis semua. Semoga Pak Prabowo dan Menteri Sosial sehat-sehat selalu dan diberi rezeki banyak-banyak. Semoga di Sekolah Rakyat ini bisa terus senang dan gembira,”
harap Rara.
Di sisi lain, Titi Finarti, ibu Rara, mengaku kagum pada keteguhan anak sulungnya itu.
“Penghasilan sehari-hari saya tidak menentu, apalagi semenjak ditinggal Ayah Rara, keuangan terasa semakin pelik. Saya tahu dia paham kondisi di rumah meski nggak banyak bicara,”
kata Titi.
Baginya, Sekolah Rakyat benar-benar jadi penyelamat. Setelah ditinggal suami, hidup makin sulit. Ia pernah ingin memasukkan Rara ke pesantren, tapi biaya asrama dan seragam sama sekali tak terjangkau. Sekarang, kekhawatiran itu sirna.
“Mama, terima kasih sudah izinkan Rara belajar di Sekolah Rakyat. Sekarang Mama enggak perlu khawatir soal biaya,”
ucap Rara suatu hari, sambil memeluk ibunya erat. Sebuah pelukan yang menandai awal baru bagi mereka.
Artikel Terkait
Anjing Liar dan Lalai Pemilik: Dua Insiden Serangan Ganas Guncang Jawa Barat
Kepala Polresta Sleman Dicopot Usai Kasus Pembelaan Diri Berujung Maut
Cinta Tak Kenal Usia: Kisah Sopir Truk dan Majikannya yang Akhirnya Sah di KUA
Opini Tanpa Data: Ancaman Nyata bagi Demokrasi di Era Medsos