Solidaritas Nyata di Kampus UIN Jakarta, Rp2,8 Miliar Terkumpul untuk Korban Sumatra
Hujan deras tak menyurutkan semangat ribuan orang yang memadati Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat lalu. Mereka datang dari berbagai kalangan mahasiswa, tokoh agama, hingga masyarakat umum dengan satu tujuan: mengulurkan tangan untuk saudara di Sumatra yang terdampak bencana. Hasilnya? Donasi yang terkumpul mencapai angka yang luar biasa, Rp2,8 miliar.
Dana sebesar itu rencananya akan disalurkan untuk meringankan beban warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Aksi yang digelar bersama Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama ini lebih dari sekadar penggalangan dana. Suasana haru dan tekad kuat untuk membantu terasa jelas di lapangan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang hadir langsung, menyampaikan apresiasi mendalam. Menurutnya, ini adalah refleksi nyata semangat kebangsaan, bukan seremoni belaka. Dia pun meluruskan sebuah pandangan yang kerap muncul saat musibah datang.
“Apa yang terjadi di Sumatra adalah musibah, bukan azab. Ini ujian bagi para korban untuk bersabar, dan ujian bagi kita: apakah kita siap berbagi untuk meringankan beban mereka,” tegas Menag.
Nasaruddin menekankan, kepedulian tidak pernah mensyaratkan kelimpahan. Bantuan sekecil apa pun, jika diberikan dengan ketulusan, nilainya menjadi sangat besar. Yang dinilai bukan nominalnya, melainkan keikhlasan di baliknya.
“Kalau kita tidak ikut membantu, artinya kita belum lulus dari ujian ini,” tambahnya.
Di sisi lain, kehadiran sejumlah tokoh lintas agama dan juga Wali Band memberi warna tersendiri. Kolaborasi ini disebut Menag sebagai model dakwah kemanusiaan yang inklusif. Musibah, katanya, mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi penghalang untuk menolong sesama.
Pernyataan senada datang dari Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad. Dia menegaskan kegiatan ini lahir murni dari kesadaran kolektif, sebuah gerakan moral yang tulus.
“Kegiatan ini bukan seremoni. Ini adalah kepedulian nyata yang lahir dari hati kita semua,” ujar Abu.
Abu melihat bencana sebagai ujian keimanan sekaligus peluang memperkuat solidaritas. Dia mengingatkan para mahasiswa untuk selalu memadukan ilmu dan adab dalam setiap aksi sosial. “Tanpa adab, seseorang bagai pasien yang ditinggalkan tanpa obat,” katanya. Deklarasi Peduli Kemanusiaan yang dibacakan bersama tokoh lintas agama menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan bukanlah batas untuk peduli.
Sebagai tuan rumah, Rektor UIN Jakarta Asep Saepudin Jahar tak menyembunyikan kebanggaannya. Dia menilai momen ini penting untuk menggugah kesadaran sosial seluruh civitas akademika. Komitmen kampus tidak berhenti di donasi. UIN Jakarta telah mengirimkan relawan dari berbagai unit seperti Ramita, Arkadia, dan PNI ke wilayah terdampak, khususnya Sumatra Barat. Bahkan, tambahan relawan dari Pramuka dan Menwa juga disiapkan.
Menceritakan kondisi lapangan, Asep menggambarkan situasi yang masih sangat memprihatinkan. Akses jalan terputus, banyak keluarga kehilangan rumah dan barang-barang dasar.
“Mereka kehilangan rumah, pakaian, bahkan tempat memasak. Donasi kita sangat berarti,” ungkap Rektor dengan nada serius.
Pada akhirnya, Aksi Peduli Sumatra ini lebih dari sekadar angka miliaran rupiah. Ia menjadi ruang edukasi sosial yang hidup bagi mahasiswa. Sebuah pelajaran tentang bagaimana ilmu, empati, dan kepedulian harus berjalan beriringan. Untuk kemanusiaan, dan tentu saja, untuk Indonesia.
Artikel Terkait
Jalan Sidrap-Soppeng Semakin Rusak, Genangan Air Sembunyikan Lubang Berbahaya
Polemik Ikan Sapu-Sapu di Sungai Sa’dan: Pemda Toraja Utara Belum Temukan Bukti, Ahli Dorong Pendekatan Lingkungan
Anggota DPR: Nasib 1,6 Juta Guru Honorer Masih Jauh dari Layak, Negara Dinilai Abaikan Hak Konstitusional
Polisi Tangkap Empat Pemuda Dalang Aksi Brutal Geng Motor di Makassar