Banjir besar yang melanda Sumatera bukan sekadar musibah biasa. Menurut Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, peristiwa itu adalah peringatan keras. Sebuah alarm yang membunyikan tanda bahaya soal kelalaian kita terhadap alam.
Cak Imin, sapaan akrabnya, menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis lalu. Acaranya adalah groundbreaking rekonstruksi Pondok Pesantren Al Khoziny.
“Hari-hari ini kita mengalami musibah besar, bencana seluruh Sumatera. Hari ini kita menyaksikan berbagai sulitnya tantangan,” ujarnya.
Ia lantas menegaskan, musibah itu harus jadi momentum evaluasi. Bukan cuma soal fenomena cuaca, tapi lebih pada cara kita memperlakukan lingkungan. Menurutnya, ini soal kemampuan mengelola sumber daya alam yang masih perlu dibenahi.
“Selain sebagai musibah, peristiwa Sumatera juga menjadi pengingat bahwa kita harus belajar untuk mampu dan becus mengelola alam, mengelola kehidupan, mengelola bangsa dan negara,” tegas Cak Imin.
Di hadapan para santri, pesannya lebih spesifik lagi. Ia mengajak mereka menggali dan memegang teguh ajaran agama tentang adab menjaga lingkungan. Bahasanya pun sesekali menyelipkan dialek khas Surabaya untuk lebih akrab.
“Anak-anakku para santri, kalian harus mengerti betul doktrin dan ajaran agama kita untuk tidak pernah abai, tidak pernah ndlewer (abai) bahasa Suroboyoan iku ndlewer, terhadap kewajiban menjaga lingkungan, ndlewer menjaga sekitar kita untuk membawa keselamatan buat kita sendiri, buat seluruh umat generasi-generasi yang akan datang,” tuturnya.
Ia mengakhiri dengan mengutip sebuah ayat. Sebuah doktrin yang menurutnya bukan cuma untuk dirasakan, tapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Dhaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin nas menjadi doktrin yang sehari-hari kita rasakan, tetapi harus juga kita implementasikan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Madura United Kalahkan Semen Padang 1-0 Berkat Gol Cepat Junior Brandão
Pemprov Sulsel Gerak Cepat Tangani Kasus Santri Diduga Dipaksa Pakai Vape Berbahaya di Pangkep
Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Masuk Agenda UNESCO, Wacana Film Layar Lebar Mengemuka
KAI Tutup 1.800 Perlintasan Liar yang Dinilai Picu Kecelakaan Kereta Api