Di tengah hiruk-pikuk era digital, dunia pesantren menghadapi ujian yang tak mudah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, mengungkapkan kegelisahannya. Baginya, gelombang informasi dari media sosial kini kerap dianggap sebagai sumber kebenaran, semata-mata karena mendapat sorotan dan perhatian luas.
"Kebenaran seolah-olah baru terwujud lewat sosial media. Yang viral, kadang itu yang dianggap benar. Dan tanpa sadar, kita ikut mengamini," ujar Cak Imin.
Ia menyampaikan hal itu saat menghadiri acara groundbreaking rekonstruksi Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis lalu.
Menurutnya, situasi ini bisa membuat kita lupa. Kebenaran yang hakiki, lanjut dia, bukan cuma soal dogma ajaran, nilai, kultur, atau tradisi yang kita pegang teguh. Namun begitu, kebenaran itu sendiri terkadang bergeser dalam pandangan banyak orang.
"Itulah tantangan kita," paparnya lebih lanjut. Nilai-nilai agama yang jadi panutan pesantren harus tetap dikibarkan, tapi sekaligus mampu beradaptasi. Tumbuh berkesesuaian dengan perubahan zaman yang serba cepat, agar tidak tergerus begitu saja.
Di sisi lain, sebagai Ketua Umum PKB, Cak Imin punya pesan khusus untuk para santri. Jangan hanya berkutat pada ilmu agama di dalam kelas atau majelis. Kepekaan terhadap realitas sosial masyarakat di luar tembok pesantren sama pentingnya.
"Belajarlah mencari ilmu sekaligus... kalau bahasa kampusnya, dengan laboratorium."
Dan laboratorium yang paling nyata, tutupnya, tak lain adalah kehidupan itu sendiri.
Artikel Terkait
Mahfud MD: KPRP Rekomendasikan Kompolnas Jadi Lembaga Independen Pengawas Polri
Harga Emas Galeri24 Naik Rp10.000, UBS Justru Terkoreksi Rp13.000 per Gram
Kajati Sulsel Setujui Penghentian Penuntutan Anggota Polri Terduga Pelaku KDRT Lewat Keadilan Restoratif
Pistons Kalahkan Cavaliers 111-101 di Game 1 Semifinal Wilayah Timur, Cunningham Cetak 32 Poin