Kesal di Bawah Banjir, Bangga di Atas Podium: Dua Wajah Penanganan Bencana Sumatera

- Kamis, 11 Desember 2025 | 12:20 WIB
Kesal di Bawah Banjir, Bangga di Atas Podium: Dua Wajah Penanganan Bencana Sumatera

Presiden bangga bencana Sumatera ditangani Indonesia sendiri tanpa bantuan negara lain.

Niatnya jelas. Pemerintah tak mau mengangkat status banjir di Sumatera menjadi Bencana Nasional. Alasannya? Kalau sudah berstatus nasional, negara-negara lain bakal langsung mengulurkan tangan. Prabowo menolak bantuan itu. Dia yakin pemerintahannya punya kemampuan untuk mengatasi semuanya sendiri.

Namun begitu, di lapangan, ceritanya jauh berbeda.

Sementara rakyat korban bencana merasakan penanganan Pemerintah sangat lamban.

Kesal dan kecewa itu nyata. Di media sosial, suara-suara warga terdengar lantang mengkritik ketimpangan antara pernyataan dan kenyataan yang mereka alami.

“Presiden megalomaniak. 12 hari kami mati lampu, gak ada jaringan internet, hidup dalam ketidakpedulian negara. Di kampung saya bahkan bantuan medis Malaysia datang jauh lebih cepat dari paket sembako berisi mi instan yang dikirimkan oleh negara ini,” ujar akun X @juvegaristabah.

Keluhan itu seperti tamparan. Menggambarkan betapa dalam jurang antara kebanggaan di tingkat atas dengan keputusasaan di tanah yang terendam. Bagi mereka yang terdampak, bantuan nyata cepat dan tepat jauh lebih berarti daripada sikap menjaga gengsi di tingkat internasional.

Jadi, di satu sisi ada narasi kemandirian yang dibanggakan. Di sisi lain, ada rakyat yang menunggu, menghitung hari tanpa listrik, dan membandingkan kecepatan bantuan dari seberang lautan dengan kiriman dari pusat. Sebuah kontras yang sulit diabaikan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar