Broligarki dan Tagihan Listrik: Saat Monster AI Mengguncang Pasar dan Politik

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 15:50 WIB
Broligarki dan Tagihan Listrik: Saat Monster AI Mengguncang Pasar dan Politik

MONSTER FRANKENSTEIN & BROLIGARKI

Oleh JIMMY H SIAHAAN

Bruno Latour, seorang aktivis lingkungan, pernah mengingatkan kita lewat esainya "Love Your Monsters". Menurutnya, kita sepertinya sudah melupakan sepenuhnya novel "Frankenstein" dan juga dosa besarnya. Kejahatan itu, kata Latour, adalah perpaduan mematikan antara keangkuhan manusia dan teknologi mutakhir.

Monster itu sendiri sebenarnya tidak lahir sebagai penjahat. Dia menjadi jahat justru karena ditinggalkan oleh penciptanya. Itulah karya brilian Mary Shelley.

Novel gothik berjudul Frankenstein; or, The Modern Prometheus ini mengisahkan Victor, seorang ilmuwan asal Jenewa, Swiss. Sejak kecil, Victor dididik untuk memandang dunia melalui kacamata sains. Suatu hari, dia menyaksikan petir menyambar pohon. Peristiwa itu memicu pertanyaan gila dalam benaknya: apakah itu sumber kehidupan? Bisakah manusia menciptakan manusia lain?

Pertanyaan itulah yang akhirnya menghantuinya. Victor pun mulai bekerja, tergila-gila untuk meniru ciptaan Tuhan yang paling agung. Dengan potongan-potongan tubuh dari jenazah, dia merakit sebuah makhluk. Potongan itu dijahit menjadi satu, lalu dihidupkan kembali dengan kejutan listrik. Lahirlah sang monster.

Gelar yang Kontroversial di Tahun 2025

Majalah Time punya tradisi menobatkan "Tokoh Tahun Ini". Untuk 2025, gelar itu tidak diberikan pada satu orang, melainkan pada sekelompok "Para Arsitek AI" seperti Sam Altman dan Mark Zuckerberg.

Namun begitu, pengumuman itu rupanya jatuh pada hari yang buruk. CNN bahkan melaporkannya dengan judul yang sinis, menyebut Time memilih hari yang keliru untuk pengumuman besar mereka.

Kenapa? Saham Oracle anjlok 14% di tengah hari, diseret oleh laporan pengeluaran besar-besaran untuk AI dan prospek yang suram. Kejatuhan itu seperti efek domino, menyeret hampir seluruh pasar saham teknologi turun. Padahal, sebelumnya saham Oracle meroket berkat demam AI. Kini, dalam beberapa bulan terakhir, nilainya terpangkas lebih dari sepertiga.

Investor mulai cemas. Mereka khawatir lonjakan pengeluaran untuk kecerdasan buatan akan segera mereda. Oracle sendiri mengaku butuh tambahan $15 miliar dari perkiraan awal, dan sudah menghabiskan $10 miliar hanya dalam satu kuartal. Utang perusahaan yang menembus $100 miliar juga bikin was-was.

Raksasa lain seperti Nvidia, AMD, Microsoft, dan Meta ikut terperosok. Intinya, satu hari yang benar-benar suram bagi bursa.

Tapi jangan salah, terlepas dari satu hari naas itu, AI jelas sedang mengalami tahun yang gemilang. Disney saja menggelontorkan $1 miliar untuk saham OpenAI dan akan melisensikan karakter ikoniknya untuk alat video AI, Sora. Time juga mencatat proyek ambisius Sam Altman bersama Oracle, bernama Stargate, senilai $500 miliar untuk membangun infrastruktur AI di AS.

OpenAI mungkin memimpin, tapi pesaing seperti Google dan Anthropic terus mengejar ketat. Seperti ditulis Time, tahun ini adalah momen di mana potensi penuh AI menjadi nyata. Tidak ada jalan untuk kembali. Pengaruhnya sudah merasuk ke segala aspek hidup kita, dari ekonomi sampai pendidikan.

Lalu, Lahirlah 'Broligarki'

Pernah dengar istilah ini? Broligarki adalah plesetan dari "bro" dan "oligarki". Istilah gaul ini menggambarkan sistem baru, di mana segelintir pengusaha teknologi yang super kaya biasanya laki-laki memegang kendali yang tidak wajar. Kekuasaan mereka untuk memengaruhi kebijakan pemerintah, hukum, bahkan percakapan publik, sungguh luar biasa. Dan seringkali, mereka berasal dari ideologi serta latar belakang yang serupa.

Ini adalah kelas penguasa informal era digital. Bayangkan "tech bros" di Silicon Valley yang kini bukan cuma kaya, tapi juga punya platform raksasa seperti X (dulu Twitter) untuk membentuk opini politik. Mirip oligarki zaman dulu, tapi dengan senjata teknologi modern. Nama-nama seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, atau Jeff Bezos sering dikaitkan dengan fenomena ini.

Kritik terhadap mereka keras. Banyak yang melihat broligarki sebagai ancaman serius bagi demokrasi. Bagaimana tidak, miliarder yang tidak terpilih ini bisa mendorong kepentingan pribadi, menciptakan semacam plutokrasi di mana visi dan keuntungan pribadi mengalahkan kepentingan bersama.

Dari Selancar ke Twitter

Asal-usul katanya cukup unik. Menurut majalah Prospect, "Broligarki" pertama kali muncul di kalangan peselancar awal 2000-an. Istilah itu dipakai untuk menyebut sekelompok kecil "bro" yang mendominasi dan mengontrol sebuah spot selancar.

Penggunaan modernnya bisa dilacak ke sebuah tweet tahun 2009. Lalu, pada 2011, istilah ini resmi masuk ke Urban Dictionary. Popularitasnya meledak saat pemilihan presiden AS 2024 dan masa kedua Donald Trump.

Luke Zaleski, editor Condé Nast, bahkan menyebut Elon Musk sebagai "broligarki pertama di dunia" dalam sebuah cuitan Maret 2024. Media arus utama pun mulai memakainya, seperti di artikel The Observer oleh Carole Cadwalladr akhir Juli 2024, diikuti The Atlantic dan Al Majalla pada Agustus tahun yang sama.

Kemarahan Hijau dan Tagihan Listrik

Di sisi lain, di dunia yang nyata, kemarahan lain tengah membara. Lebih dari 200 kelompok lingkungan hidup mendesak moratorium nasional untuk pembangunan pusat data baru di AS. Mereka menuntut Kongres bertindak.

Koalisi besar ini termasuk Greenpeace dan Friends of the Earth menuduh fasilitas raksasa yang haus energi itu sebagai biang kerok. Dampaknya macam-macam: emisi karbon melonjak, konsumsi air yang boros, dan yang paling langsung dirasakan rakyat: tagihan listrik yang membubung.

"Peningkatan pesat pusat data yang tidak diatur ini mengancam komunitas kami," bunyi surat mereka. Setidaknya 16 proyek senilai $64 miliar telah ditunda atau dibatalkan karena penolakan warga lokal yang geram dengan kenaikan biaya listrik.

Kekhawatiran ini ternyata punya daya dorong politik yang kuat. Isu tagihan listrik yang mahal membantu kemenangan Demokrat di Virginia dan New Jersey baru-baru ini. Bahkan di Georgia, kandidat yang menentang pusat data berhasil menang.

Padahal, Presiden Trump menyebut isu keterjangkauan ini sebagai "narasi palsu".

"Mereka hanya mengucapkan kata itu," kata Trump. "Itu tidak berarti apa-apa bagi siapa pun. Mereka hanya mengatakannya: keterjangkauan."

Namun faktanya, sekitar 80 juta warga AS kesulitan membayar tagihan listrik dan gas mereka. Charles Hua dari PowerLines, sebuah organisasi non-partisan, melihat tren baru.

"Kami memasuki era baru yang sepenuhnya bergantung pada harga listrik," ujar Hua.

“Tidak ada seorang pun di Amerika yang mau membayar lebih untuk listrik. Di Georgia, kami menyaksikan sebagian besar pemilih konservatif memilih menentang petahana dari Partai Republik, yang sungguh mengejutkan.”

Kemarahan ini menyatukan orang dari spektrum politik yang berseberangan, dari Bernie Sanders di kiri hingga Marjorie Taylor Greene di kanan. Bagi gerakan lingkungan, fokus pada keterjangkauan ini jadi senjata baru yang efektif, di tengah sulitnya berdebat tentang krisis iklim.

Presiden Trump sendiri menyebut krisis iklim sebagai "tipuan" dan energi bersih "penipuan". Sementara itu, dengan laju pertumbuhan saat ini, pusat data diperkirakan akan menambah 44 juta ton karbon dioksida ke atmosfer pada 2030 setara dengan menambah 10 juta mobil.

Tapi bagi kebanyakan orang, yang lebih menyakitkan adalah dampaknya pada dompet, bukan pada iklim. Emily Wurth dari Food & Water Watch mengakuinya.

"Saya kagum dengan gelombang perlawanan akar rumput bipartisan terhadap hal ini," katanya.

“Semua orang terdampak. Banyak orang tidak melihat manfaat dari AI dan merasa mereka harus membayarnya dengan tagihan listrik dan air mereka."

"Ini topik pembicaraan yang penting," tambah Wurth. "Harga-harga naik secara umum dan ini adalah sesuatu yang sangat diperhatikan oleh rakyat."

Sebuah Dunia Baru

Dunia ilmu pengetahuan dan teknologi berubah dengan kecepatan yang sulit diikuti. Perubahan itu datang dari teknologi, membelah realitas kita menjadi dua: dunia nyata dan dunia maya.

Dari dua dunia ini, manusia menikmati kemajuan. Tapi efek sampingnya ternyata melahirkan bentuk kapitalisme baru. Kapitalisme perang berganti menjadi kapitalisme digital.

Kaum oligarki lama pun berevolusi. Kini, mereka adalah kaum broligarki. Sebuah perubahan yang terasa tak terelakkan, meski tetap ada tokoh perempuan yang ikut bermain di dalamnya.

Namun begitu, kritik terhadap para arsitek AI tak pernah padam. Ia bergejolak dalam gerakan hijau yang berjuang menjaga kelestarian alam. Perlawanan itu terus berlangsung, berakar dari komitmen lama seperti Perjanjian Paris 2015.

Dan dalam waktu yang tidak lama lagi, kita akan tahu: akankah kita melihat dunia yang terawat, atau justru menyaksikannya sekarat perlahan?

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar