Pesan Terakhir Mbak Kejebak Kebakaran dan Duka Keluarga Ningsih

- Kamis, 11 Desember 2025 | 01:36 WIB
Pesan Terakhir Mbak Kejebak Kebakaran dan Duka Keluarga Ningsih

Pada Selasa siang itu, ponsel ibu Ningsih bergetar. Tepat pukul 12.22 WIB, sebuah pesan WhatsApp masuk. Isinya singkat, tapi membuat hati siapa pun yang membacanya langsung ciut: "Ibu, Mbak kejebak kebakaran."

Itulah pesan terakhir Ningsih (24). Gadis itu kemudian tercatat sebagai satu dari 22 korban tewas dalam kebakaran hebat yang melalap Gedung Terra Drone di Jakarta Pusat.

Wahyu Raharjo, ayah Ningsih, turut membaca pesan singkat itu. Jantungnya langsung berdebar kencang. Tanpa buang waktu, dia berusaha menelepon putrinya. Tak ada jawaban. Dering ponsel hanya terdengar hampa, berulang-ulang.

"Anak saya itu sempat WA, saya lupa ya jam 12.42 WIB atau 22. Dia cuma kasih kabar terjebak kebakaran di kantor,"

Wahyu mengisahkan kejadian itu di kediamannya di Pancoran Mas, Depok, pada Rabu (10/12). Suaranya berat. Panik yang dirasakannya saat itu masih terasa jelas.

"Saya telepon dan itu udah nggak dijawab sama sekali. Dia hanya mengirimkan chat WA saja... setelah itu nggak ada kabarnya,"

Ningsih sudah dua tahun mengabdikan diri di gedung itu. Setelah upaya menghubungi gagal, Wahyu menyalakan televisi. Dan di sana, berita tentang kebakaran gedung kantor pun muncul. Dadanya sesak.

"Kebeneran saya waktu itu ada tamu, jadi saya nggak bisa langsung. Tapi begitu lihat di TV, itu positif bahwa itu tempat perusahaannya. Saya langsung ke sana, ke lokasi,"

Ucapnya getir. Di tengah proses pencarian korban yang kacau dan penuh ketegangan, matanya menangkap sesuatu. Sebuah foto terpampang di antara daftar korban. Bukan namanya yang pertama kali dikenali, melainkan wajahnya yang paling ia hafal.

"Saya lihat awalnya itu bukan namanya. Karena begitu dicari, saya lihat fotonya," katanya. Lalu dia menyambung, pelan, "Fotonya, saya bilang ini udah positif anak saya."

Setelah melalui proses evakuasi dan penanganan di RS Polri, jenazah Ningsih akhirnya dibawa pulang. Tangis pecah menyambut kedatangannya di rumah duka di Pancoran Mas. Di hari yang sama, dia pun dikebumikan, mengakhiri kisahnya yang terpotong tragis.

Insiden mengerikan ini merenggut total 22 nyawa pegawai. Seluruh korban kini telah teridentifikasi dan diserahkan pihak RS Polri Kramat Jati kepada keluarga yang berduka.

Lantas, apa pemicu awal bencana? Dari pemeriksaan sementara, titik masalah diduga berasal dari baterai drone yang meledak di lantai satu. Polisi masih mendalami kasus ini. Hingga kini, setidaknya delapan saksi telah dimintai keterangan, termasuk perwakilan HRD dan manajemen perusahaan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler