Suara Mimi Andriani bergetar saat ia mengingat pagi Selasa itu. Pagi terakhir ia melihat putranya, Reyhan, berangkat kerja. "Kok secepat itu?" ujarnya, matanya berkaca-kaca. "Baru usianya 24 tahun. Masih banyak mimpi-mimpi dia yang belum kesampaian."
Ia ditemui di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, malam di hari yang sama. Duka sudah pasti menyelimutinya. Reyhan adalah salah satu karyawan Terra Drone yang jadi korban kebakaran di Kemayoran.
Rutinitas pagi itu berjalan biasa saja, bahkan sangat biasa. Reyhan pamit seperti selalu: mencium tangan ibunya. "Baik mama, mama hati-hati ya nyetirnya," kata Mimi menirukan ucapan anaknya. Itu adalah kalimat terakhir yang didengarnya langsung dari putra pertamanya itu.
Mimi juga mengenal kebiasaan Reyhan yang tak suka jajan. "Abang tuh kurang suka mah jajan di luar," kenangnya. "Abang bawa nasi aja ya dari rumah. Oke, nggak apa-apa." Bekal dari rumah itu selalu ia bawa.
Namun begitu, tak ada yang bisa menduga nasib. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa anaknya telah pergi. "Emang sih, kalau Tuhan berkehendak, kita juga mau bilang apa ya. Kita hanya bisa ikhlas," ucap Mimi. Tapi sebagai seorang ibu, rasanya tentu lain. "Tapi kan sebagai ibu, saya gimana sih anak saya yang paling gede baru kerja. Baru gede, satu tahun lebih kurang di situ."
Di balik kesedihannya, ada satu pertanyaan yang mengganjal. Mimi merasa bingung, kenapa di kantor tempat anaknya bekerja tak ada prosedur darurat yang jelas. "Cuma yang bingungnya di kantor ini, kok nggak ada penanganan kayak simulasi atau apa," tuturnya.
Artikel Terkait
PPATK Catat Penurunan Signifikan Perputaran Dana Judi Online pada 2025
Persada 212 Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Trump, Sebut Wadah Pengkhianatan bagi Palestina
Dugaan Suap Rp50 Miliar ke Kejaksaan Agung Hambat Pengusutan Tambang Ilegal Kalbar
Mahkota Longsor di Burangrang Picu Rantai Bencana, Operasi SAR Terus Digenjot