Jadi anggota dewan, Abi malah makin garang. Dia aktif menghadang setiap jalur ilegal kayu. Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika dia berhasil menggagalkan keberangkatan tiga kapal asal Tiongkok yang hendak membawa kayu curian dari kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Aksi itu membuat namanya makin dikenal sekaligus membuat ancaman terhadap nyawanya membesar.
Teror itu terus membayangi, tak pernah benar-benar pergi, hingga akhir hayatnya menjemput. Kematiannya memang penuh tanda tanya. Tapi satu hal yang pasti: Abi Kusno wafat sebagai seorang pejuang. Dia tegak berdiri melawan korupsi, ketamakan, dan kerusakan yang menggerogoti lingkungannya.
Dia gugur, mungkin karena berjuang sendirian. Sekarang, giliran kita. Nyalanya tak boleh padam. Kalau kita ingin hutan Kalimantan tetap bernapas, maka keberanian seperti yang dimiliki Abi harus terus hidup, diwariskan, dan diperjuangkan bersama-sama.
Artikel Terkait
KPK Dalami Aliran Dana dan Perjalanan Ridwan Kamil Terkait Kasus BJB
Guru 2026: Masihkah Ada Ruang untuk Wibawa di Tengah Transaksi Pendidikan?
Kasus Hogi Minaya Resmi Ditutup, Penuntutan Dihentikan Demi Hukum
Jokowi Santai Menanggapi Nama yang Selalu Terseret Kasus Bawahan