Jadi anggota dewan, Abi malah makin garang. Dia aktif menghadang setiap jalur ilegal kayu. Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika dia berhasil menggagalkan keberangkatan tiga kapal asal Tiongkok yang hendak membawa kayu curian dari kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Aksi itu membuat namanya makin dikenal sekaligus membuat ancaman terhadap nyawanya membesar.
Teror itu terus membayangi, tak pernah benar-benar pergi, hingga akhir hayatnya menjemput. Kematiannya memang penuh tanda tanya. Tapi satu hal yang pasti: Abi Kusno wafat sebagai seorang pejuang. Dia tegak berdiri melawan korupsi, ketamakan, dan kerusakan yang menggerogoti lingkungannya.
Dia gugur, mungkin karena berjuang sendirian. Sekarang, giliran kita. Nyalanya tak boleh padam. Kalau kita ingin hutan Kalimantan tetap bernapas, maka keberanian seperti yang dimiliki Abi harus terus hidup, diwariskan, dan diperjuangkan bersama-sama.
Artikel Terkait
Pemerintah Tunda Pengiriman 8.000 Pasukan Perdamaian TNI ke Gaza
Pengerjaan Jalan Hertasning Makassar Rampung, Fokus Beralih ke Aroepala
TAUD Desak Polisi Ungkap Dalang Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS
25 Kilogram Kokain Diamankan di Pesisir Selayar, Diduga Bagian Jaringan Internasional