Malam Senin (8/12) itu benar-benar mencekam. Seorang warga Jepang membagikan kesaksiannya tentang gempa dahsyat yang baru saja mengguncang. Tak tanggung-tanggung, bencana itu melukai puluhan orang dan meninggalkan jejak kerusakan di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat kekuatan gempa mencapai 7,5 magnitudo. Guncangan hebat itu bahkan memicu tsunami setinggi 70 cm. Dampaknya langsung terasa: layanan kereta cepat terpaksa dihentikan, dan sebuah kebakaran dilaporkan terjadi di area utara. Kerusakan dan korban luka pun berjatuhan.
Daiki Shimohata, seorang ASN di Aomori, masih terlihat syok saat menceritakan kejadian itu.
"Getarannya luar biasa, bukan seperti yang biasa kami alami. Rasanya seperti dunia mau runtuh, berlangsung sekitar 20 detik yang terasa sangat lama," ujarnya kepada AFP.
"Saya dan istri langsung memeluk anak-anak kami yang masih balita. Saat itu, ingatan kami langsung melayang ke bencana tahun 2011," sambung Shimohata, suaranya masih bergetar.
Bencana yang dia maksud tentu saja gempa dan tsunami maha dahsyat 14 tahun silam. Kala itu, gempa berkekuatan 9,0 magnitudo mengguncang, merenggut lebih dari 18.500 nyawa dan memicu krisis nuklir di PLTN Fukushima. Sebuah kenangan pahit yang selalu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jepang.
Memang, negeri ini tak pernah benar-benar berhenti bergoyang. Letaknya yang berada di atas empat lempeng tektonik utama, persis di tepi Cincin Api Pasifik, menjadikannya salah satu wilayah paling aktif di dunia. Sekitar 125 juta penduduknya hidup berdampingan dengan rata-rata 1.500 gempa setiap tahun.
Untungnya, sebagian besar guncangan itu berskala ringan. Meski begitu, tingkat kerusakannya bisa sangat bervariasi, tergantung di mana episentrumnya dan seberapa dalam sumber gempa berada.
Pengalaman pahit yang berulang ini, mau tidak mau, membentuk Jepang menjadi ahli dalam hal mitigasi bencana. Mereka mungkin hidup di atas tanah yang tak pernah diam, tetapi kesiapsiagaan mereka sulit ditandingi.
Artikel Terkait
PBVSI Umumkan 14 Pemain Timnas Voli Putra untuk AVC Cup 2026 di India
Menteri Agama: Media Arus Utama Harus Jadi Perekat Persatuan Bangsa di Tengah Derasnya Informasi
Indonesia Siap Jadi Pusat Dialog Islam Moderat Dunia Lewat Konferensi Imam Masjid Internasional 2026
Andi Taletting Langi Resmi Pimpin IKA Ilmu Politik Unhas, Canangkan Lima Program Prioritas