Bencana yang dia maksud tentu saja gempa dan tsunami maha dahsyat 14 tahun silam. Kala itu, gempa berkekuatan 9,0 magnitudo mengguncang, merenggut lebih dari 18.500 nyawa dan memicu krisis nuklir di PLTN Fukushima. Sebuah kenangan pahit yang selalu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jepang.
Memang, negeri ini tak pernah benar-benar berhenti bergoyang. Letaknya yang berada di atas empat lempeng tektonik utama, persis di tepi Cincin Api Pasifik, menjadikannya salah satu wilayah paling aktif di dunia. Sekitar 125 juta penduduknya hidup berdampingan dengan rata-rata 1.500 gempa setiap tahun.
Untungnya, sebagian besar guncangan itu berskala ringan. Meski begitu, tingkat kerusakannya bisa sangat bervariasi, tergantung di mana episentrumnya dan seberapa dalam sumber gempa berada.
Pengalaman pahit yang berulang ini, mau tidak mau, membentuk Jepang menjadi ahli dalam hal mitigasi bencana. Mereka mungkin hidup di atas tanah yang tak pernah diam, tetapi kesiapsiagaan mereka sulit ditandingi.
Artikel Terkait
Polri Gunakan Drone dan AI untuk Pantau dan Atur Arus Mudik Lebaran 2026
Komisaris Tinggi HAM PBB Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Bupati Bone Dorong Percepatan Program Perkebunan 2026, Fokus pada Hilirisasi Tebu
Macet Ekstrem Gilimanuk, Pemudik Diturunkan Paksa di Tengah Jalan