Banjir bandang yang melanda Sumatra beberapa waktu lalu meninggalkan luka yang dalam. Khususnya di Aceh, bencana ini bukan sekadar air yang datang dan pergi. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menyebutnya dengan istilah yang mengguncang: "tsunami kedua". Pernyataannya itu langsung mengingatkan kita pada tragedi besar dua dekade silam. Namun, menurut sang gubernur, ada kejanggalan-kejanggalan yang membuat musibah kali ini terasa berbeda.
Memang, kerusakannya luar biasa parah. Rumah-rumah warga hanyut, jalan-jalan terputus, dan kehidupan seakan lumpuh. Data dari BNPB pun menunjukkan angka yang pilu: korban tewas di Aceh mencapai 389 jiwa, lebih tinggi dibandingkan provinsi tetangga. Dampaknya begitu masif, hingga Mualem sapaan akrab gubernur merasa gambaran "tsunami" adalah yang paling tepat.
Pernyataannya itu ia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan Najwa Shihab. "Mualem yang jelas ketika Mualem kemarin bilang 'Ini seperti tsunami kedua' itu kita semua langsung teringat 20 tahun lalu," kata Najwa, membuka percakapan.
"Apa sebab Mualem bicara ini tsunami kedua, Mualem?" tanyanya lagi.
Mualem mengaku, alasannya sederhana: ia melihat langsung kehancuran di lapangan. Hujan yang turun hampir delapan hari delapan malam itu menghadirkan bencana dengan skala yang ia anggap luar biasa.
"Pasti kita lihat di lapangan bahwa dengan hujan lebih kurang 8 hari, 8 malam, jadi di situ kita lihat dampak banjir yang luar biasa," jawabnya. "Mengorbankan jiwa, harta benda, dan juga infrastruktur dan sebagainya," lanjutnya.
Meski menyamakannya dengan tsunami, Mualem merasa ada sesuatu yang ganjil. Banyak hal yang tak biasa.
Kejanggalan pertama adalah airnya sendiri. Berbeda dengan tsunami 2004 yang surut relatif cepat, banjir kali ini meninggalkan genangan lumpur dan air hitam pekat yang tak kunjung hilang. Air itu bukan hanya hitam, tapi juga menyebabkan gatal dan perih di kulit, serta mengeluarkan bau menyengat yang menusuk hidung.
"Karena kita lihat satu kejadian yang paling aneh, dulu masa tsunami sebentar paling-paling 20 menit habis, ini enggak," ujar Mualem. "Waktu banjir itu, mengeluarkan suatu keadaan yang airnya di situ hitam. Gatal-gatal dan juga perih dan juga bau."
Namun begitu, yang lebih membuatnya terperangah adalah kondisi korban dan alam sekitar. Banyak jenazah ditemukan dalam keadaan pakaian terbuka atau bahkan tanpa busana. Ia juga heran melihat banyak hewan melata seperti ular dan biawak mati bergelimpangan.
"Jadi seperti itu. Tadi mayat-mayat kita lihat ada yang terbuka baju, telanjang. Ini ada sesuatu hal yang kita lihat yang aneh," katanya, suaranya berat. "Sedangkan binatang-binatang... binatang melata itu seperti ular, biawak kita lihat ini banyak yang mati, kita heran. Padahal kan itu alam mereka, harusnya tidak mungkin mati. Kita lihat ikan-ikan juga."
Saat menceritakan semua ini, emosi Mualem tak terbendung. Air matanya mengalir, mengungkap beban berat yang dipikulnya sebagai pemimpin di tengah duka rakyatnya.
Najwa Shihab pun mencoba menghibur. "Tidak perlu minta maaf, Mualem. Kita tahu Mualem setiap malam selalu keliling ketemu rakyat, bawa bantuan langsung sendiri, kasih langsung ke rakyat."
Dengan suara lirih, Mualem hanya menjawab, "Saya pada prinsipnya tidak punya apa-apa. Saya hanya berusaha, hanya berdoa."
Kesaksiannya itu meninggalkan kesan mendalam. Bencana banjir bandang ini bukan hanya soal volume air, tetapi juga misteri dan duka yang menyertainya.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor