Petugas meminta sopir menepi untuk menunggu rekan mereka. Permintaan itu diabaikan. Mobil malah melaju kencang menuju Sudirman. Macet parah di sana akhirnya memaksa kendaraan berhenti. Dan lagi-lagi, AS mengambil kesempatan. Dia kabur lagi, kali ini menyusuri trotoar dan langsung menuju pintu stasiun MRT Benhil.
Pengejaran berpindah ke dalam stasiun. Suasana jadi sedikit ricuh. Berkat bantuan security dan petugas MRT setempat, langkah AS akhirnya bisa dihentikan. Dia tidak bisa lari lebih jauh.
"Kami berhasil memberhentikan langkahnya untuk kabur," ujar Ardo, menegaskan.
AS akhirnya dibawa ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Proses deportasi pun dijalankan. Tapi, rupanya perjalanan mengembalikan AS ke China tidak mulus. Dia sama sekali tidak kooperatif.
"Sempat melakukan perlawanan. Tidak mau mengikuti SOP pendeportasian," beber Ardo.
Aksi perlawanannya bahkan terjadi hingga ke Bandara Soekarno-Hatta. Dalam sebuah video, AS terlihat meronta-ronta dan menarik perhatian penumpang lain. Petugas sampai harus menggotong, bahkan mengikat kaki dan tangannya agar tidak mengamuk.
Meski begitu, misi akhirnya tuntas. Pada 30 November, AS berhasil dideportasi ke negara asalnya. Tutup sudah satu episode kejar-kejaran yang dimulai dari kemacetan Sudirman hingga ke ruang keberangkatan bandara.
Artikel Terkait
Ikan Dingkis Bertelur, Rezeki yang Diburu Jelang Imlek dengan Harga Selangit
Prabowo Buka Ruang Dialog dengan Mantan Pengkritik, Bahas Reformasi Polri hingga Opsi Kementerian Baru
Bahar Bin Smith Resmi Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan Banser
KADIN DIY Usung Tiga Filosofi Jawa untuk Cetak Ekonomi Yogyakarta yang Berkarakter