Luther Panjaitan dari BYD Motor Indonesia tampak prihatin. Kabar tentang rencana pemerintah menghentikan insentif untuk mobil listrik, termasuk program PPN DTP, dianggapnya bisa menghambat laju penjualan yang selama ini cukup menggembirakan. Padahal, menurutnya, kebijakan itulah salah satu motor penggerak utama.
"Tentunya kita juga harus akui bahwa salah satu motor atas tren positif dari EV ini adalah insentif dan policy yang ditetapkan oleh pemerintah," ujarnya dalam sebuah kesempatan di Bogor, akhir pekan lalu.
Faktanya, angka penjualan BYD sendiri terbilang solid. Sejak awal tahun 2024, mereka telah melampaui 47 ribu unit. Luther menyebut insentif pemerintah punya andil besar membuat harga kendaraan listrik lebih kompetitif, sehingga minat masyarakat pun bertambah. Tanpa dukungan itu, optimisme pertumbuhan yang pesat seperti sekarang mungkin sulit dipertahankan.
"Dan kami mungkin kurang confidence dapat tren ini bisa dapat continuous growth-nya rapidly seperti sekarang, kalau tidak adanya konsistensi atau perpanjangan dari policy yang sama dengan tahun ini," jelasnya.
Ia masih berharap kebijakan insentif bisa diperpanjang.
Artikel Terkait
Dua Sekolah Dasar Bandung Ukir Sejarah di MilkLife Soccer Challenge
Ekspor Chip Korea Selatan Tembus Rp344 Triliun di Awal 2026
MUI Buka Suara: Emas Digital Boleh, Asal Tak Sekadar Angin
Lippo Mall Puri Hadirkan Taman Bunga Raksasa Sambut Imlek 2026