Ketum APIB Apresiasi Kerja Cepat Basarnas–TNI Tembus Titik Isolasi Bencana di Sumatera
Gerak cepat Basarnas dan TNI mendapat pujian. Erick Sitompul, Ketua Umum DPP Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB), secara khusus menyampaikan apresiasi tinggi kepada kedua lembaga itu, plus BNPB dan seluruh elemen pemerintah. Mereka berhasil menembus seluruh titik isolasi korban banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pernyataannya itu disampaikan Minggu (7/12/2025), atau sepekan setelah bencana besar yang meluluhlantakkan puluhan kabupaten itu terjadi.
Menurut laporan Marsda TNI Muhammad Safii, semua titik yang sebelumnya terputus kini sudah bisa diakses. Tiga titik kritis di Aceh Tamiang yang sempat jadi sorotan, misalnya, akhirnya berhasil ditembus tim gabungan. Ribuan personel dikerahkan. Medannya ekstrem diterjang banjir bandang, longsor, dan hujan deras yang masih saja mengguyur wilayah terdampak.
“Ini progres sangat penting,” kata Erick.
“Dengan akses terbuka, BNPB, instansi terkait, dan relawan bisa masuk. Bantuan makanan, minuman, dan layanan medis untuk warga yang selamat bisa segera disalurkan.”
Erick mengakui, menembus desa-desa terisolasi itu bukan pekerjaan mudah. Selain medan berat di perbukitan dan hutan, tim penyelamat jelas sedang berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa.
“Saya dulu pernah jadi mapala, ikut operasi pencarian pendaki hilang di Sumut dan Sumbar. Medannya berat sekali, bisa makan waktu berhari-hari,” ujarnya mengenang.
“Bayangkan sekarang, puluhan kabupaten di tiga provinsi kena sekaligus. Tapi saya yakin Basarnas, TNI, dan BNPB tangguh di lapangan.”
Di sisi lain, ada kabar baik soal pemulihan listrik. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasojo, melaporkan dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto bahwa seluruh titik terdampak di tiga provinsi itu kini sudah kembali dialiri listrik. Pemulihan yang cepat ini tak lepas dari dukungan armada truk, kapal, dan helikopter TNI–Polri yang mengangkut genset serta perangkat pendukung.
Bagi Erick, kembalinya pasokan listrik, gas, dan BBM adalah hal vital. Bukan cuma untuk keselamatan, tapi juga untuk memulihkan kepercayaan masyarakat yang sempat hilang.
Namun begitu, ia menegaskan satu hal: banjir bandang tahun ini adalah yang terburuk dalam sejarah Indonesia. Penyebabnya bukan cuma curah hujan ekstrem akibat siklon tropis, tapi juga kerusakan hutan di hulu perbukitan yang sudah sangat masif.
“Jutaan ton tanah pekat dan jutaan kubik kayu gelondongan ikut terbawa arus,” tegasnya.
“Itu bukan fenomena alam biasa itu akibat penebangan liar, land clearing serampangan, dan kebijakan yang teledor.”
Ia menambahkan, publik berhak menuntut pertanggungjawaban para pelaku perusakan hutan, baik korporasi maupun pejabat yang lalai.
“Harus ada sanksi pidana, pencabutan izin, dan denda seberat-beratnya. Jangan cuma pencabutan izin formal buat meredam kemarahan publik saja,” kata Erick.
Meski demikian, prioritas saat ini tetap jelas. Menurutnya, fokus harus pada penyelamatan korban selamat, pencarian yang hilang, dan relokasi permukiman yang hancur. Penanganan kemanusiaan harus jadi yang utama, baik bagi pemerintah maupun seluruh lapisan masyarakat.
“Kita satu bangsa, satu saudara. Pastikan para penyintas dapat penanganan terbaik. Nyawa manusia jauh lebih penting,” ujarnya.
Rasa prihatinnya terasa sangat personal. Dua kampung halamannya termasuk yang terdampak paling parah: Takengon di Aceh Tengah, tempat ia dilahirkan, dan Batang Toru di Tapanuli Selatan, kampung ibunya.
“Kerusakan di sana parah sekali. Korban jiwa banyak. Ini sangat memilukan,” ungkapnya lirih.
Erick berharap, bencana memilukan ini bisa jadi titik balik. Indonesia, katanya, harus memperkuat perlindungan hutan, memperbaiki tata kelola lingkungan, dan menghentikan segala praktik eksploitasi yang membahayakan keselamatan rakyat.
Artikel Terkait
Trump Kecam Iran dengan Sindiran Pedas dan Gambar AI, Negosiasi Nuklir Makin Buntu
Mahfud MD Sorot Lemahnya Pengawasan Internal TNI dan Polri dalam Kasus Andrie Yunus
Jaksa Agung Lantik Sila H. Pulungan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan
Keluarga Nahkoda Kapal Honour 25 yang Disandera Perompak Somalia Masih Menanti Kabar