Kisah di Tenda Pengungsian: Prabowo dan Isak Tangis Warga Korban Banjir Aceh

- Minggu, 07 Desember 2025 | 13:24 WIB
Kisah di Tenda Pengungsian: Prabowo dan Isak Tangis Warga Korban Banjir Aceh

Suasana di posko pengungsian Kampoeng Pante Baro, Bireuen, Aceh, Minggu pagi itu terasa berbeda. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto, yang sedang meninjau korban banjir, memicu gelombang harapan sekaligus emosi yang tertahan. Angin pagi yang sejuk seolah tak mampu meredakan kepedihan yang terpancar dari wajah para pengungsi.

Rute peninjauan dimulai dari dapur umum. Setelah melihat persiapan logistik, langkah Prabowo berlanjut ke tenda-tenda tempat warga mengungsi. Di sanalah momen-momen yang lebih personal terjadi.

Saat memasuki salah satu tenda, perhatiannya langsung tertuju pada seorang bayi yang digendong ibunya. Tanpa banyak bicara, Prabowo membungkuk dan mencium kening anak kecil itu. Gestur spontan itu menciptakan keheningan sebentar, sebelum kemudian suara-suara lain mulai terdengar.

Para ibu, yang selama hari-hari ini mungkin merasa terlupakan, mulai memberanikan diri. Mereka mendekat, menyampaikan unek-unek yang telah mengendap. Prabowo pun berhenti, mendengarkan dengan saksama.

"Sudah diambil sungai Pak rumah saya. Tidak ada lagi Pak rumah,"

Ucap seorang ibu sambil isak tangisnya tak terbendung. Kalimat sederhana itu, terucap dengan getir, menggambarkan betapa dahsyatnya musibah yang mereka alami. Harta satu-satunya lenyap begitu saja diterjang arus.

Namun begitu, di tengah kesedihan itu, ada juga semangat untuk bertemu. Banyak warga yang antusias menyambut, berjabat tangan, mencoba merasakan sedikit kehadiran negara di tengah keterpurukan mereka. Prabowo tampak menyerap setiap cerita, setiap keluh kesah yang dilontarkan. Kunjungan singkat itu, meski tak serta merta mengembalikan rumah mereka, setidaknya memberikan pengakuan bahwa derita mereka didengar.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar