Di Balik Lumpur, Warga Aceh Tamiang Bertahan dengan Uluran Tangan di Pinggir Jalan

- Rabu, 10 Desember 2025 | 10:42 WIB
Di Balik Lumpur, Warga Aceh Tamiang Bertahan dengan Uluran Tangan di Pinggir Jalan

Selasa sore di Aceh Tamiang terlihat ramai. Tapi keramaian ini bukan suasana pasar yang biasa. Orang-orang lalu-lalang di jalan, namun wajah mereka penuh kelelahan dan tangan mereka terulur. Mereka bukan berjualan. Mereka meminta-minta.

Sudah dua pekan lebih sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda, keadaan di sini masih jauh dari kata pulih. Sisa-sisa bencana terlihat di mana-mana: lumpur mengering yang menutupi segalanya, mobil dan motor yang ringsek, rumah-rumah yang hancur. Pasar sepi, toko-toko sembako masih tutup rapat. Yang tersisa hanyalah aroma tanah basah dan keputusasaan yang pekat.

Di sepanjang jalan yang becek, banyak warga hanya duduk atau berdiri. Mereka mengulurkan tangan pada setiap kendaraan yang lewat. Tujuannya sederhana sekaligus menyedihkan: meminta bantuan untuk bertahan hidup.

Di sekitar pasar yang sepi, kami berbincang dengan beberapa warga. Ada Dodi, Genan, dan Cut. Pakaian mereka masih compang-camping, belepotan lumpur yang sudah mengering. Mereka berteduh di bawah pohon, sesekali melangkah ke pinggir jalan, lalu kembali duduk terdiam.

"Kami… beras tolong dibantu, Pak," ujar Dodi membuka percakapan. Suaranya lirih.

Belakangan, isu melonjaknya harga sembako memang ramai diperbincangkan. Di Aceh, kabarnya harga minyak sampai telur meroket tak karuan.

Dodi mengiyakan. Menurutnya, kabar itu benar adanya. "Betul, pedagang mau membunuh masyarakat yang kena aniaya dengan bencana banjir," katanya, nada suaranya mulai meninggi. "Telur satu karton yang dulu cuma tiga puluh sampai empat puluh ribu, sekarang bisa tujuh puluh lima ribu. Minyak juga naik, sepuluh persen lebih lah."

Memang, truk-truk pengangkut bantuan terlihat keluar masuk. Banyak juga kendaraan pribadi yang membawa karung beras, obat-obatan, atau pakaian. Tapi, di situlah masalahnya menurut mereka.

Genan menyebut bantuan yang datang sebenarnya banyak. "Tapi entah ke mana bantuan-bantuan itu," ucapnya singkat.

Dodi lalu menambahkan dengan lebih detail. "Bantuan banyak masuk, cuma enggak jelas… selip. Jadi gini, selipnya: banyak di desa-desa itu hilang, enggak tahu ke mana. Tidak sesuai dengan bantuan yang ada. Tidak ada yang sesuai."

Karena merasa tak mendapat bantuan yang memadai, warga pun memilih berkerumun di jalan raya. Cut menuturkan, itu adalah satu-satunya cara. "Beginilah kami apa adanya, tunggu, menunggu. Ini makan dari nunggu-nunggu orang di jalan, siapa yang lewat dikasih. Kalau nunggu di kampung, enggak makan kami," katanya.

Namun begitu, di tengah kesulitan yang mencekik, semangat mereka belum sepenuhnya padam. Dodi, Cut, dan Genan masih bisa sesekali tertawa kecil. Mereka bahkan berseloroh bahwa diri mereka sudah mirip kambing.

"Sebabnya sejak banjir, kami jarang mandi," jelas Dodi sambil terkekeh. "Air minum sih ada. Kalau air bersih untuk mandi pakai air sungai, air hujan. Kami udah jadi kambing enggak mandi."

Cut kemudian menambahkan, menggambarkan kerugian yang mereka tanggung. "Kami semiskin-miskinnya. Anak-anak tidak sekolah, buku-buku, baju, barang-barang pergi semuanya. Sudah habis semua."

Di ujung percakapan, harapan mereka sebenarnya sederhana. Mereka berharap bantuan bisa sampai ke tangan yang tepat, tidak lenyap di jalan. Dan mereka berdoa harga-harga bahan pokok segera normal kembali. Bukan untuk kemewahan, tapi sekadar agar bisa hidup sehari lagi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar