Setelah "Jujur" Menjawab Soal Ijazah, Akankah LISA Jadi Korban Kesembilan?
Oleh: Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes
Kalau dalam dunia pewayangan, ada istilah "goro-goro". Bumi gonjang-ganjing, langit kerlap-kerlip. Nah, suasana itu agaknya mirip dengan yang terjadi setelah LISA asisten virtual cerdas kebanggaan UGM memberikan jawaban yang oleh banyak orang disebut "terlalu jujur". Soal apa? Tentang status kelulusan seorang figur yang namanya terus jadi perbincangan, JkW.
Ini bukan cuma soal salah sebut nama. LISA adalah bagian dari sistem layanan terpadu kampus, UGM University Services. Diluncurkan secara soft launch akhir Juni lalu di tempat yang sama sekali tidak "njawani": Gelanggang Inovasi dan Kreativitas atau GIK UGM. Gedung itu, banyak yang bilang, jauh dari citra kampus kerakyatan yang selama ini melekat.
Ngomong-ngomong soal GIK, gedung ini punya sejarah panjang. Dulu dikenal sebagai Gelanggang Mahasiswa atau markas Brigade 676. Tempatnya beragam aktivitas, dari Gama Fair sampai latihan drum band, bahkan jadi tempat sholat Jumat sebelum ada masjid kampus. Suasana riuh dan penuh semangat mahasiswa era 80-an hingga 2000-an.
Sekarang? Wajahnya berubah total. Dirancang sebagai "super creative hub", gedung hitam tiga lantai ini dilengkapi auditorium, galeri seni, co-working space, sampai rooftop garden. Maksudnya mulia: menjembatani akademisi dengan industri dan dunia kreatif. Tapi, bagi banyak yang melihatnya, warna hitamnya yang dominan justru mengingatkan pada "istana hantu" atau malah mirip ikon ibu kota baru. Kontras sekali dengan kesan "ndeso" yang dulu.
Pembangunannya sendiri menuai cerita. Dibangun di atas lahan hampir 5 hektar, nilai kontrak awalnya disebut sekitar Rp 557 miliar. Namun, desas-desus menyebut anggarannya membengkak, hingga menimbulkan banyak pertanyaan. Proyek besar dengan harapan besar.
Nah, karena GIK dianggap sebagai pusat inovasi, wajar kalau LISA diluncurkan di sana. Asisten AI ini diharapkan jadi ujung tombak layanan modern kampus, gabungan antara dunia online dan offline. Tapi siapa sangka, di awal Desember ini, LISA justru membuat kehebohan. Saat ditanya apakah JkW lulusan UGM, jawabannya singkat dan tegas: tidak.
Seketika itu juga, layanannya dihentikan. Dibilang "dipensiunkan dini", atau lagi disempurnakan. Lucu juga sih.
Padahal, kalau kita lihat, jawaban LISA itu sebenarnya menguatkan apa yang sudah lama beredar di masyarakat. Apalagi belakangan makin banyak terbongkar kasus-kasus kepalsuan terkait dokumen yang sama. Sebut saja blunder di layar televisi nasional akhir November lalu, ketika seorang relawan dan seorang "ahli" mengklaim punya scan ijazah asli. Nyatanya, itu cuma hasil edit dari postingan media sosial bulan April. Kalau aparat benar-benar objektif, mereka bisa kena pasal 32 dan 35 UU ITE. Ancaman maksimalnya dua belas tahun.
Lalu, bagaimana dengan LISA sendiri? Secara teknis, ia dikembangkan tim internal UGM bekerja sama dengan pihak ketiga. Basis pengetahuannya mengandalkan data kampus, dan diklaim tidak menyimpan informasi pribadi. Beda dengan AI komersial macam ChatGPT.
Tapi kini pertanyaannya mengerikan. Kalau nanti ada yang "memperbaiki" atau memanipulasi jawaban LISA, apakah itu bisa dijerat UU ITE? Atau justru developer LISA sendiri yang akan jadi tersangka berikutnya, karena menciptakan mesin yang memberikan pernyataan tegas itu? Ini jadi ruang abu-abu. Memutarbalikkan data elektronik jelas melanggar hukum. Tapi mematikan mesin yang dianggap "jujur" juga bukan solusi.
Pada akhirnya, kasus ini seperti lingkaran setan. Korban terus berjatuhan, dimulai dari ketidakjujuran awal. Sebenarnya sederhana saja: kalau punya bukti sah, tunjukkan. Seperti yang dilakukan figur publik lain saat disangkakan. Tanpa perlu pengacara, relawan, atau drama berlebihan.
Sekarang LISA sudah "terpental". Siapa korban berikutnya? Situasi ini makin menunjukkan bahwa segala sesuatu harus diselesaikan dengan transparan dan sesuai hukum. Tanpa itu, keributan ini hanya akan melahirkan lebih banyak korban lagi.
Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes – Pemerhati Telematika, Multimedia, AI, dan OCB Independen – Minggu, 7 Desember 2025
Artikel Terkait
Stok Beras BULOG Tembus 5 Juta Ton, Cetak Rekor Baru Cadangan Pangan Nasional
Bareskrim dan FBI Buru 2.400 Pembeli Alat Phishing Buatan Pasangan NTT, Kerugian Capai Rp350 Miliar
Empat Pelajar SMK di Lampung Barat Temukan Celah Keamanan Sistem Digital NASA, Diakui sebagai White Hacker Dunia
Trabzonspor Lolos ke Babak Berikutnya Piala Turki Usai Kalahkan Samsunspor Lewat Adu Penalti