Di tengah riuh Indonesia Sport Summit 2025, suara Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto terdengar jelas. Ia bicara blak-blakan soal syarat mutlak untuk membina olahraga. Menurutnya, semua harus dimulai dari infrastruktur yang layak. "Tanpa itu, percuma saja. Mau pembinaan seperti apa?" ujarnya tegas di hadapan para peserta yang memadati Indonesia Arena, GBK, Sabtu lalu.
Bima tak cuma berteori. Ia lalu menunjuk contoh nyata: Surabaya. Di era kepemimpinan Tri Rismaharini, kota itu dikenal jago mengelola aset-aset yang tercecer. Lahan kelurahan yang mangkrak, bekas SPBU yang tak terpakai semua dipetakan, ditertibkan, lalu dihidupkan kembali untuk kepentingan publik.
“Jadi bukan cuma mengandalkan gedung yang sudah ada,” lanjut Bima, “tapi lahan-lahan yang punya prospek pun harus digarap.”
Praktik semacam ini, dalam pandangannya, harus meluas. Apalagi kebutuhan daerah terus bertambah. Optimalisasi aset bukan cuma urusan memperbaiki layanan publik, tapi juga jadi kunci untuk mendongkrak pembinaan olahraga di tingkat akar rumput.
Nah, terkait sinergi, baru-baru ini memang ada langkah konkret. Tiga kementerian Dalam Negeri, Pemuda dan Olahraga, serta UMKM baru saja menandatangani Nota Kesepahaman awal Desember ini. Bima melihat momen ini sebagai peluang emas. Sinergi pusat dan daerah, katanya, bisa membuat pengelolaan sarana olahraga jadi lebih profesional. Fasilitas yang sebelumnya sepi dan kurang guna bisa diubah jadi ruang publik yang hidup, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.
Artikel Terkait
BGN Hentikan Sementara Ratusan Dapur MBG di Indonesia Timur karena Tak Miliki Sertifikat Higiene
Bayer Leverkusen dan Bayern Munich Imbang 1-1 dalam Laga Panas Penuh Drama VAR
Putri Kusuma Wardani Amankan Tiket Final Swiss Open 2026
Polri Gunakan Drone dan AI untuk Pantau dan Atur Arus Mudik Lebaran 2026