Sentimen serupa diungkapkan sang imam. “Kami tidak memikirkan agama. Prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa,” kata Basit dengan sederhana.
Kisah heroik ini pun menyebar. Banyak orang datang menjenguk Basit, mulai dari tetangga, perwakilan politik, hingga otoritas lokal, untuk menyampaikan penghormatan. Bahkan kabarnya, pengakuan resmi dari pemerintah mungkin akan menyusul.
Namun begitu, konteks di balik kisah ini tak bisa diabaikan. Assam belakangan dikenal sebagai wilayah dengan politik yang keras terhadap Muslim. Di bawah pemerintahan BJP pimpinan Kepala Menteri Himanta Biswa Sarma, terjadi penggusuran massal, pembongkaran rumah, dan narasi yang menggambarkan Muslim Bengali sebagai “penyusup”.
Kelompok hak asasi manusia kerap memperingatkan, kebijakan semacam ini hanya mempertajam segregasi dan berpotensi memicu kekerasan.
Di tengah iklim yang penuh kecurigaan itu, tindakan Basit dan warga Muslim setempat bagai oase. Ini adalah penolakan simbolis terhadap kebencian komunal. Sekaligus pengingat nyata bahwa di tingkat akar rumput, rasa kemanusiaan sering kali lebih kuat daripada politik pemecah belah.
Ironis, bukan? Di saat komunitas Muslim Assam kerap menjadi sasaran fitnah dan kekerasan, justru merekalah yang pertama terjun ke air dingin untuk menyelamatkan nyawa sesama warga yang berbeda keyakinan. Tindakan itu sendiri sudah berbicara banyak sebuah ketahanan moral yang hidup, bertahan di tengah tekanan sehari-hari.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral