Gunungan Cangkang Kerang di Cilincing: Warisan Turun-Temurun yang Berbau Masalah

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 06:12 WIB
Gunungan Cangkang Kerang di Cilincing: Warisan Turun-Temurun yang Berbau Masalah

Di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, ada pemandangan yang tak biasa. Bukan hamparan pasir, melainkan daratan baru yang terbentuk dari tumpukan cangkang kerang. Gunungan putih itu mengular di bibir pantai, hasil keringat warga yang telah turun-temurun hidup dari kerang.

Semua berawal dari tempat-tempat pengupasan yang berjejer tak jauh dari sana. Sejak dulu, mungkin era 90-an atau bahkan lebih lama lagi, warga Kampung Kerang sudah akrab dengan urusan si moluska ini. Ada yang jadi peternak, banyak pula yang sehari-harinya cuma mengupas.

“Turun-temurun,”

kata Suparni, warga asli berusia 49 tahun, suatu Jumat di awal Desember. Baginya, kerang adalah bagian hidup. Sejak lahir, ia sudah bersinggungan dengan cangkang dan dagingnya. Suaminya seorang peternak, dan hasil panennya diserahkan ke seorang ‘bos’. Bersama bos itulah Suparni kemudian bekerja, mengupas kerang untuk dijual lagi ke tengkulak. Bahkan anak dan menantunya pun ikut dalam ritme yang sama.

“Ini anak saya juga ngupasin kerang kalau pagi, kalau sore jaga cucu,”

ujarnya sambil tertawa kecil. Upahnya tak besar. Untuk satu ember kecil kerang matang, ia dibayar tiga ribu rupiah. Kalau kerangnya masih mentah dan akarnya menempel, harganya lima ribu. Tapi dalam sehari, ia bersyukur masih bisa membawa pulang seratus ribu rupiah. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, katanya. Itu yang terpenting.

Asal Muasal Gunungan itu

Menurut Suparni, dulu suasana pesisir tak seperti ini. Produksi kerang belum sebanyak sekarang, dan cangkang-cangkangnya biasa diangkut petugas kebersihan untuk dibuang ke tempat yang layak. “Dulu nggak ada gunung cangkang gini,”

katanya, menunjuk ke tumpukan tinggi di depannya. Namun seiring waktu, bos-bos penjual kerang makin banyak bermunculan. Limbah pun mulai menumpuk, tak terhitung lagi jumlahnya setiap hari. Apalagi ada satu lapak yang beroperasi 24 jam nonstop bayangkan saja, dari sana saja ribuan cangkang terbuang tiap harinya.

“Satu lapak aja hampir seratus karung. Ini banyak bosnya, dari ujung ke ujung. Bayangin aja. Apa lagi jelang Natal dan tahun baru ini,”

tambahnya.

Harapan Warga yang Terpendam

Sebagai warga yang tinggal di sana, Suparni sebenarnya risi. Lokasi itu ramai oleh anak-anak bermain dan para lansia yang beraktivitas. Bau tak sedap kerap menyengat, apalagi saat musim hujan tiba dan ulet-ulet berdatangan.

“Penginnya dibersihin sih. Saya keberatan juga kena hawa baunya,”

ungkapnya. Ia berharap ada alat atau cara untuk mengolah cangkang itu jadi sesuatu yang bernilai. Atau setidaknya, ada yang mengangkutnya agar tak terus menumpuk. Kekhawatiran serupa diungkapkan Sani, ibu muda beranak dua tahun. Ia takut belatung, lalat, dan tikus yang mungkin datang mengganggu kesehatan buah hatinya.

“Penginnya dibersihin soalnya juga kan ngundang lalat kecil. Gak enak ya, kalau lagi sama anak juga suka nemplok di makanan,”

keluhnya.

Dampak yang Mengintai

Persoalannya tentu bukan sekadar pemandangan atau bau. Ada risiko kesehatan yang nyata. Seorang praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, pernah memaparkan bahaya limbah cangkang kerang terutama jika menumpuk di kawasan permukiman padat seperti ini.

Dampak jangka pendeknya bisa berupa keracunan gas hidrogen sulfida yang keluar dari cangkang membusuk. Untuk jangka panjang, timbunan itu bisa memicu penyakit kulit, diare, gastroenteritis, hingga leptospirosis dan kolera. Belum lagi jadi sarang nyamuk penyebab DBD dan chikungunya. Ancaman yang sebenarnya tak main-main, namun seolah tenggelam di antara gunungan cangkang dan rutinitas warga yang terus berjalan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar