Di sisi lain, Ricky mengakui bahwa serangan semacam ini bukanlah hal baru. Namun begitu, intensitasnya belakangan ini meningkat tajam, seiring dengan dinamika politik nasional yang memanas. Ia khawatir narasi-narasi manipulatif itu bisa menyesatkan publik yang kurang kritis.
Masyarakat pun diingatkan untuk jangan mudah termakan. Setiap informasi, terutama yang bernada serangan, perlu dicek dulu kebenarannya.
Lantas, bagaimana sikap partainya? Ricky menegaskan, Demokrat tetap berpegang pada politik yang mengedepankan data dan prestasi. Etika komunikasi publik yang sehat, menurutnya, adalah hal yang non-negosiable. Ia juga berharap ada langkah tegas dari pihak berwenang dan platform media sosial. Mereka harus aktif menindak penyebaran informasi palsu yang jelas-jelas merusak demokrasi.
“Kita harus lawan hoaks dengan fakta. Jangan beri ruang pada kebiasaan ngibul yang ingin merusak akal sehat publik,”
tegasnya menutup pernyataan.
Pertanyaannya sekarang, apakah seruan ini cukup untuk meredam gelombang hoaks yang terus berulang? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Di Balik Jeruji Yordania: Kisah Ibu dan Anak dengan ADHD yang Terjerat Kasus Terorisme Daring
Ibu dan Balita Hilang Diterjang Banjir di Tabanan
Sutoyo Sindir Homo Eggiensis: Restorative Justice atau Pertunjukan Kekuasaan?
Hijab dan Seragam AS: Dilema WNI di Garda Nasional Amerika