Pengamat: Langkah Sjafrie Soal TKA China adalah Upaya Jaga Kedaulatan
Langkah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang membongkar soal tenaga kerja asing (TKA) asal China di Morowali dinilai sebagai langkah strategis. Bukan cuma urusan ketenagakerjaan, menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, ini sudah masuk ranah keamanan nasional dan geopolitik.
Menurutnya, langkah itu menunjukkan keberanian pemerintah membaca ancaman yang tak kasatmata. Penetrasi kekuatan asing, lewat jalur ekonomi dan tenaga kerja, adalah hal yang nyata.
"Isu TKA China ini bukan sekadar soal tenaga kerja," kata Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat lalu.
"Ini soal rasa keadilan masyarakat dan bagaimana negara melindungi warga lokalnya. Ketika gaji mereka lebih tinggi dan posisi strategis didominasi asing, tentu akan timbul resistensi sosial."
Ia menjelaskan, kecemburuan sosial di daerah seperti Morowali sudah lama muncul. Gaji pekerja asing yang jauh lebih tinggi dibanding lokal bukan cuma bikin gelisah. Ini berpotensi memicu konflik horizontal.
Tapi itu baru permukaannya saja.
Di lapisan yang lebih dalam, ribuan TKA China di sektor sensitif seperti nikel, smelter, dan kawasan industri berteknologi tinggi membuka peluang lebar untuk aktivitas intelijen. Infiltrasi zaman sekarang tak selalu dilakukan agen resmi. Pekerja proyek atau teknisi bisa jadi pintu masuk operasi intelijen asing, baik untuk ekonomi, industri, maupun tujuan strategis.
"China punya tradisi intelijen yang sangat kuat," jelas Amir. "Mereka memaksimalkan diaspora, pekerja, bahkan pelajar di luar negeri untuk mengumpulkan informasi."
Keberadaan mereka di kawasan strategis bisa membuka akses terhadap banyak hal: peta geologi, alur logistik nasional, teknologi smelter, pola pengamanan objek vital, hingga data sosial ekonomi masyarakat. Semua bisa terkumpul secara tak langsung, tapi sistematis.
"Ini bukan tuduhan kosong. Banyak negara sudah mengonfirmasi praktik serupa," tegasnya, menyebut sejumlah negara di Eropa hingga Australia.
Morowali sendiri bukan tempat biasa. Kawasan itu kini jadi episentrum geopolitik nikel dunia. Di era transisi energi global, nikel Indonesia adalah aset strategis setara minyak di era 1970-an. Di titik inilah, keberadaan TKA China tak bisa dilepaskan dari strategi besar Beijing mengamankan rantai pasok baterai dan kendaraan listrik global.
"Indonesia sekarang ada di jantung perebutan kendali mineral strategis. China agresif masuk ke sektor nikel kita. Makanya, kontrol mereka lewat TKA, teknologi, dan investasi harus dibaca dengan kacamata geopolitik. Bukan cuma bisnis belaka," papar Amir.
Ia juga menyoroti bagaimana kehadiran TKA bisa memperkuat dominasi teknologi dan kontrol operasional perusahaan China di industri nikel Indonesia. Lama-lama, ini bakal melemahkan posisi tawar kita di pasar global.
Nah, tindakan Sjafrie membongkar dan memeriksa TKA China di Morowali itu, bagi Amir, adalah sinyal kuat. Negara mulai mengambil kembali kedaulatan di sektor-sektor strategis.
Pertama, langkah itu menunjukkan bahwa keamanan ekonomi adalah bagian dari keamanan nasional. Ancaman sekarang bentuknya bukan cuma militer, tapi juga ekonomi dan demografi.
Kedua, ini mengirim pesan ke investor asing bahwa Indonesia bukan negara yang bisa dipermainkan. Penegakan aturan ketenagakerjaan dan keamanan harus jadi standar, bukan pengecualian.
Ketiga, mengembalikan rasa keadilan bagi masyarakat lokal. Aksi Sjafrie menunjukkan keberpihakan pada tenaga kerja dalam negeri.
Dan keempat, memberi tekanan politik dan diplomatik ke China. Hubungan kerja sama tidak bisa jalan kalau kedaulatan Indonesia tidak dihormati.
Agar langkah ini tak cuma jadi simbol, Amir memberi beberapa rekomendasi. Perlu audit total jumlah TKA China di seluruh Indonesia, terutama di proyek strategis. Lalu screening intelijen terhadap latar belakang dan aktivitas mereka. Kapasitas tenaga kerja lokal juga harus ditingkatkan agar tidak bergantung pada tenaga asing. Selain itu, pastikan semua perusahaan asing tunduk pada aturan ketenagakerjaan kita, dan bangun sistem pengawasan berkelanjutan di kawasan industri strategis.
Amir Hamzah menilai langkah Sjafrie Sjamsoeddin tidak hanya tepat, tapi krusial. Dalam dinamika geopolitik dan intelijen modern, kontrol atas tenaga kerja asing di sektor strategis adalah bagian dari mempertahankan kedaulatan nasional.
Ini untuk menjaga stabilitas sosial, dan memastikan Indonesia tidak jadi objek penetrasi kekuatan asing.
"Ini bukan sekadar soal TKA," pungkas Amir. "Ini soal kedaulatan, keamanan nasional, dan masa depan industri strategis Indonesia."
Artikel Terkait
774 Pelanggaran Disiplin Terjadi di Kemenimipas, Bolos Kerja Mendominasi hingga 42 Pegawai Dipecat
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar