Rasa jengkel jelas terdengar dalam suara Titiek Soeharto. Ketua Komisi IV DPR itu tak lagi sanggup menyaksikan pohon-pohon besar, yang butuh ratusan tahun untuk tumbuh, ditebang begitu saja. "Saya tidak mau," tegasnya, "kami tidak mau ada alasan moratorium-moratorium." Intinya sederhana: hentikan penebangan pohon berukuran besar.
Kemarahannya meluap setelah mengetahui ada oknum perusahaan yang nekat mengangkut kayu. Yang membuatnya geram, aksi itu terjadi hanya dua hari setelah bencana banjir dan longsor melanda Sumatera. Menurut sejumlah saksi, truk-truk itu melintas dengan santai di jalan raya, membawa kayu balakan berdiameter besar.
"Lebih menjengkelkan lagi, itu truk lewat di jalan raya dua hari setelah peristiwa banjir ini," ujar Titiek, suaranya meninggi.
Dia lalu menatap langsung Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, yang hadir dalam rapat kerja di Senayan, Kamis lalu.
"Dengan kemajuan teknologi, truk itu lewat depan hidung kita. Sungguh menyakitkan, Pak Menteri."
Di ruang rapat itu, Titiek memutar beberapa video sebagai bukti. Dia mendesak sang menteri untuk segera bertindak. "Saya minta Bapak Menteri untuk cari tahu siapa perusahaan itu. Dan tolong jangan ada pohon-pohon besar lagi yang ditebangin."
Bagi Titiek, bencana yang terjadi bukan semata soal cuaca ekstrem. Ada faktor lain yang lebih mengkhawatirkan: kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Dia menyoroti praktik pembukaan lahan untuk perkebunan atau pertambangan yang membuat hutan gundul.
"Kita tidak bisa terus menerus menyalahkan hujan," sentilnya.
"Bencana hidrometeorologi di ujung barat Indonesia ini adalah alarm keras. Hujan deras memang faktor alam, tapi ketidakmampuan tanah menahan air? Itu ulah kita sendiri."
Dia menjelaskan, Aceh, Sumut, dan Sumbar terhubung dalam satu ekosistem Pegunungan Bukit Barisan. Ketika ketiganya dilanda banjir serentak, itu pertanda ada yang salah dengan 'menara air' di hulu. Penyebabnya, tak lain, adalah hilangnya tutupan hutan.
Tak cuma marah, Titiek juga menawarkan solusi. Dia meminta para pengusaha kehutanan mencari mata pencaharian lain. "Sudahlah, cari makan tempat lain. Tanam padi kek, tanam jagung, apa yang lain-lainnya bisa dikerjakan," ujarnya kepada wartawan di Senayan.
"Jangan tebang-tebang lagi pohon kita."
Tekadnya untuk menindak tegas pelaku pun jelas. Di hadapan Menhut Raja Juli, Titiek berpesan agar aturan diperketat dan proses hukum dijalankan tanpa pandang bulu. Siapa pun pelakunya.
"Mau bintang, bintang segala macam, kita ini mewakili rakyat Indonesia," kata Titiek dengan nada tegas.
"Sudah cukuplah penderitaan."
Artikel Terkait
Hari Bumi 2026 Serukan Our Power, Our Planet, Ajak Aksi Nyata
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Bervariasi: Cerah Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Sore
Remaja 16 Tahun Gantikan Almarhumah Ibu Berangkat Haji dari Makassar
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan, Pelaku dan Komplotan Ditangkap di Jombang