Gunungan Cangkang Kerang di Utara Jakarta: Ancaman Kesehatan yang Mengendap

- Jumat, 05 Desember 2025 | 07:12 WIB
Gunungan Cangkang Kerang di Utara Jakarta: Ancaman Kesehatan yang Mengendap

Di utara Jakarta, tumpukan cangkang kerang jadi pemandangan yang kian mengkhawatirkan. Limbah ini, seperti jenis limbah lainnya dari pabrik atau hewan ternak, kalau dibiarkan menumpuk begitu saja, jelas menimbulkan masalah. Apalagi kalau lokasinya dekat pemukiman, pesisir, atau pasar seafood. Dampaknya untuk kesehatan masyarakat bisa langsung terasa, tapi juga mengintai dalam jangka panjang.

Menurut dr. Ngabila Salama, seorang praktisi kesehatan masyarakat lulusan Universitas Indonesia, situasi ini tidak bisa dianggap sepele.

"Dampaknya bisa kita lihat dalam hitungan hari sampai minggu, terutama saat limbah menumpuk dan tak dikelola dengan benar," jelasnya dalam sebuah keterangan tertulis, Jumat (5/12).

Bahaya yang Datang Cepat

Pertama, soal bau. Sisa daging yang membusuk di cangkang menghasilkan gas berbahaya seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas H₂S itu baunya mirip telur busuk. Paparan ringan saja sudah bikin pusing, mata dan tenggorokan perih, bahkan mual dan sesak di dada. Dalam konsentrasi tinggi, gas ini bisa bikin orang pingsan meski di lingkungan rumah tangga kasusnya jarang.

Lalu, tumpukan cangkang yang masih ada sisa organiknya itu ibarat pesta untuk vektor penyakit. Lalat, tikus, dan kecoa bakal berdatangan. Otomatis, risiko penyakit seperti diare, leptospirosis, atau kontaminasi makanan pun melonjak.

Jangan lupa, cangkang yang pecah itu tajam. Risiko terkena luka sayat atau infeksi kulit seperti selulitis sangat mungkin terjadi. Belum lagi kalau limbahnya dibuang sembarangan ke sungai atau pantai. Kualitas air langsung anjlok, jadi cepat busuk, dan bisa picu iritasi kulit atau diare bagi warga yang memakainya.

Namun begitu, ancaman yang lebih serius justru mengendap untuk waktu yang lama.

Efek Jangka Panjang yang Mengintai

Dalam hitungan bulan hingga tahun, masalahnya jadi kronis. Lingkungan yang jadi habitat permanen bagi lalat dan tikus akan membuat penyakit menular jadi langganan. Diare bisa berulang, infeksi saluran cerna mengintai.

Yang sering luput dari perhatian adalah kandungan logam berat dalam kerang, seperti merkuri, kadmium, dan timbal, plus mikroplastik. Dalam jangka panjang, zat-zat berbahaya ini bisa meresap ke tanah dan air, masuk ke rantai makanan, dan akhirnya mengganggu fungsi ginjal, saraf, serta hati. Untuk ibu hamil, paparan tinggi dan terus-menerus berisiko mengganggu perkembangan janin.

Bagi pemukiman yang kebetulan dekat dengan tempat pengolahan, debu halus dari cangkang dan gas pembusukan yang terus-menerus terhirup bisa memicu iritasi saluran napas hingga bronkitis kronis. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita asma paling merasakan dampaknya.

Air tanah pun tak luput. Pembuangan limbah masif yang terus berulang bisa merusak kualitas air sumur, baunya berubah, dan risiko infeksi pencernaan akan selalu menghantui. Pada akhirnya, lingkungan yang rusak berimbas tidak langsung pada kesehatan. Saluran air tersumbat picu banjir lokal yang bawa penyakit kulit dan leptospirosis. Pantai yang kotor menurunkan kualitas hidup. Pertumbuhan alga tidak sehat di perairan juga meningkatkan risiko toksin bagi nelayan dan ekosistem.

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Mengubah Sampah Jadi Berkah

Bagi yang menangani isu ini di lapangan, beberapa langkah praktis bisa diterapkan. Kuncinya adalah memutus masalah dari sumbernya.

Pisahkan dan cuci bersih cangkang dari sisa daging. Langkah sederhana ini saja sudah memotong 90% masalah bau dan serangan vektor penyakit. Jemur di bawah matahari untuk membunuh bakteri dan menghentikan pembusukan.

Daripada dibuang, cangkang kerang justru punya nilai ekonomi. Bisa diolah jadi tepung kalsium karbonat untuk pakan ternak, campuran batako atau semen, bahan kerajinan tangan, atau pupuk kapur untuk pertanian. Pendekatan ekonomi sirkular semacam ini tidak cuma mengurangi tumpukan sampah, tapi juga membuka peluang untuk UMKM.

Kalau volumenya sangat besar, perlu penanganan tingkat industri. Misalnya dengan autoclave, sistem pengomposan khusus limbah protein, atau penggilingan menjadi bubuk CaCO₃ yang murni. Intinya, limbah ini tidak harus jadi musibah. Dengan pengelolaan yang cerdas, ia justru bisa berubah menjadi sumber daya yang bermanfaat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar