"Ini waktunya turun tangan, bukan turun teori," kira-kira begitu komentar yang banyak bertebaran.
Di sisi lain, situasi di lapangan memang memprihatinkan. Banyak rumah masih terendam lumpur, fasilitas umum rusak, dan sebagian warga terpaksa mengungsi. Yang dibutuhkan adalah kepastian dan aksi nyata. Empati sederhana sekedar menanyakan kabar atau memastikan bantuan rasanya jauh lebih bermakna.
Memang, analisis karakteristik tanah mungkin punya nilai untuk perencanaan jangka panjang. Namun begitu, penyampaiannya di momen yang salah bisa terasa janggal, bahkan mengganggu. Publik pun mengingatkan, pejabat harus lebih berhati-hati bicara di lokasi bencana, di mana masyarakat sedang dalam tekanan emosional tinggi.
Kini, harapan warga Bireuen cuma satu: pemulihan yang cepat. Mereka ingin akses jalan dibenahi, fasilitas diperbaiki, dan ada langkah serius agar banjir seperti ini tidak terulang lagi. Fokusnya tetap pada bagaimana bangkit dari keterpurukan.
Percakapan viral itu mungkin akan segera terlupakan. Tapi bekas lumpur dan rasa was-was warga, butuh waktu lebih lama untuk dibersihkan.
Artikel Terkait
Es Gabus Dituduh Spons, Pedagang Bogor Dipaksa Makan Dagangannya Sendiri
Kuasa Hukum Tantang Eggi Cs: Saya Tunggu Nyali Anda di Sidang
Diduga Dibunuh, Perempuan 55 Tahun di Ponorogo Tewas dengan Luka Benda Tumpul
Sayembara dari Solo: Iming-iming Damai untuk Penggugat Ijazah Palsu