"Sebelumnya kerasa banget karena nggak ada event. Kemarin kan ada event jadi tetep rame," ucapnya.
Meski gerainya ramai, dia merasa kasihan melihat kesulitan yang dialami para driver ojol. "Kasihan ke driver kalau mau parkir tapi dihalangin. Ada nggak sih tempat parkir khusus buat mereka?" tanyanya.
Pemerintah: Masih Dalam Tahap Identifikasi
Di tengah gemuruh keluhan, pemerintah daerah tak langsung mengambil keputusan. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa ini masih tahap awal. Mereka sedang mengidentifikasi masalah secara menyeluruh sebelum memutuskan langkah berikutnya.
"Sekarang baru kita identifikasi... Kita identifikasi dulu kekurangannya apa," kata Sultan usai rapat koordinasi di Balai Kota. Parkir dan nasib transportasi tradisional jadi beberapa hal yang sedang dipetakan. Intinya, semua kekurangan harus terdata dulu. Baru nanti dibahas, memungkinkan atau tidak Malioboro benar-benar ditutup tahun depan.
Pendapat serupa disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Menurutnya, uji coba ini sama sekali bukan pemaksaan, melainkan bagian dari proses mencari strategi terbaik untuk masa depan Malioboro.
"Tadi arahannya identifikasi masalah aja dulu. Tidak memaksakan," tegas Hasto.
Ia juga meluruskan istilahnya. "Kita tidak menyebut full pedestrian karena ini tidak pernah full. Jadi menurut saya kita ini parsial pedestrian."
Fokus utama saat ini, selain parkir, adalah bagaimana mengurangi beban kendaraan di Malioboro dan mengalihkan sebagian aktivitas ke Terminal Giwangan. "Supaya tekanan terhadap Malioboro itu berkurang," pungkas Hasto. Jadi, semua masih dalam proses pengamatan. Hasilnya? Kita tunggu saja.
Artikel Terkait
Masjid Raya Pase Kembali Ramai, Meski 124 Masjid Lainnya Masih Rusak Berat
Prabowo Panggil Menteri, Bahas Strategi Kuasai Kekayaan Alam
Darurat Lahan Sawah: 554 Ribu Hektare Beralih Jadi Perumahan dan Industri
Born to Run: Kisah Dua Keluarga yang Bangkit dari Reruntuhan Kecelakaan