Nah, menurut Lynn, ekosistem hutan yang beragam itu punya keseimbangan alaminya sendiri. Keseimbangan itulah yang menjaga kesehatan tanah dan seluruh kehidupan di dalamnya. Sayangnya, mekanisme alamiah ini sama sekali tidak ada di perkebunan sawit skala besar.
"Sebaliknya, perkebunan monokultur harus menggunakan herbisida, insektisida, bakterisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar untuk meniru beberapa cara alam melindungi tanaman," tulis Lynn.
Di sinilah masalahnya mulai berantai. Ketergantungan pada bahan kimia itu justru merusak tatanan alami. Seiring waktu, hama dan gulma menjadi kebal. Alhasil, petani terpaksa menambah dosis atau beralih ke racun yang lebih kuat. Lingkungan pun semakin tercemar, siklusnya jadi makin parah.
Jadi, meski sama-sama hijau dan berdaun, fungsi ekologisnya bagai bumi dan langit. Hutan adalah sistem hidup yang mandiri dan kompleks. Sementara kebun sawit, meski menghasilkan, lebih menyerupai pabrik hijau yang rapuh dan sangat bergantung pada campur tangan manusia.
Artikel Terkait
Pengacara Desak Ayah Korban Kekerasan di Sukabumi Diperiksa, Diduga Biarkan Anak dalam Bahaya
Polisi Siapkan 10 Ruas Tol Fungsional untuk Antisipasi Macet Mudik Lebaran 2026
DPRD Sulsel dan Tim Teknis Temukan Ketebalan Aspal Jalan Hertasning Sesuai Standar
Dua Aktivis Pati Bebas Bersyarat Usai Divonis 6 Bulan Penjara