Nah, menurut Lynn, ekosistem hutan yang beragam itu punya keseimbangan alaminya sendiri. Keseimbangan itulah yang menjaga kesehatan tanah dan seluruh kehidupan di dalamnya. Sayangnya, mekanisme alamiah ini sama sekali tidak ada di perkebunan sawit skala besar.
"Sebaliknya, perkebunan monokultur harus menggunakan herbisida, insektisida, bakterisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar untuk meniru beberapa cara alam melindungi tanaman," tulis Lynn.
Di sinilah masalahnya mulai berantai. Ketergantungan pada bahan kimia itu justru merusak tatanan alami. Seiring waktu, hama dan gulma menjadi kebal. Alhasil, petani terpaksa menambah dosis atau beralih ke racun yang lebih kuat. Lingkungan pun semakin tercemar, siklusnya jadi makin parah.
Jadi, meski sama-sama hijau dan berdaun, fungsi ekologisnya bagai bumi dan langit. Hutan adalah sistem hidup yang mandiri dan kompleks. Sementara kebun sawit, meski menghasilkan, lebih menyerupai pabrik hijau yang rapuh dan sangat bergantung pada campur tangan manusia.
Artikel Terkait
Gerakan Rakyat Resmi Berkibar Jadi Partai, Sahrin Hamid Pimpin Transformasi
Harapan dan Doa di Pondok Bambu untuk Yoga, Korban Hilang Pesawat Maros
Dari Tunanetra Jadi Terapis Andalan, Andry Buktikan Disabilitas Bukan Halangan Berkarya
Puisi: Arsip Sunyi yang Menyimpan Kekecewaan Publik