Operasi airdrop bantuan logistik untuk korban banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tiba-tiba jadi perhatian publik. Bukan tanpa alasan. Bantuan yang dijatuhkan dari helikopter TNI itu seperti beras dan mi instan ternyata banyak yang hancur berantakan begitu menghantam tanah.
Jarak drop-nya dinilai terlalu tinggi. Akibatnya, karung-karung beras pecah dan isinya berhamburan. Mi instan pun tak ketinggalan, remuk tak karuan. Di beberapa lokasi seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah, warga terpaksa memunguti butiran beras yang berserakan. Ada juga yang memilih membuangnya karena sudah bercampur tanah dan kotor.
Menanggapi hal ini, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengaku pihaknya sudah mengevaluasi metode tersebut. Mereka kini beralih ke sistem "heli box" dan payung udara untuk pengiriman lewat udara. Intinya, bantuan ditempatkan dalam wadah khusus yang dilengkapi baling-baling atau parasut, sehingga bisa turun lebih perlahan dan aman.
"Juga menggunakan payung udara, dibawa menggunakan Hercules C130, kemarin sudah dilaksanakan di Aceh Tamiang hari ini juga kita laksanakan sistem box CDS (carry delivery system), yaitu menggunakan pesawat CN dan Hercules,"
Agus menjelaskan hal itu dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (3/12).
Di sisi lain, dia tak menampik kerumitan medan yang dihadapi. Menurutnya, kondisi di lapangan seringkali memaksa keputusan cepat. Seperti ketika helikopter hendak mendarat tapi terhalang kabel listrik.
"Kemarin saat ada heli mau mendarat, di situ ada kabel, sehingga diputuskan oleh pilot bahwa barang itu tetap didrop, walaupun ada beberapa beras yang tercecer tapi dari pada dibawa lagi ke pangkalan udara lebih baik didrop dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,"
ujarnya.
Agus juga menyentil soal keselamatan personel. Ini jadi perhatian serius, menyusul insiden memilukan di Padang.
"Karena di Padang ada 3 personel TNI, 2 dari POM, 1 dari Babinsa pada saat membantu penanganan bencana terbawa arus beberapa hari, dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,"
katanya dengan nada berat.
"Sehingga saya tekankan dalam penanganan bencana agar tetap menjaga keamanan personel dan alutsista yang digunakan,"
tambahnya.
KSAD Bicara Soal Kerumitan Teknis
Sementara itu, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak turut angkat bicara. Dia menekankan, operasi droping dari udara memang penuh tantangan teknis yang tidak sederhana.
"Tadi sudah dijelaskan terkait dengan droping, jadi memang heli itu tidak bisa mendarat di mana pun jadi landasan harus siap,"
kata Maruli.
Meski begitu, dia memastikan evaluasi terus dilakukan. TNI AD berkomitmen agar bantuan yang sampai ke tangan pengungsi dalam kondisi layak.
"Jadi kondisi bantuan harus diberikan, jadi kita coba untuk dilempar, setelah ada yang pecah kita evaluasi lagi, dan kita tetap berupaya sampai sekarang tidak terjadi lagi sudah,"
pungkasnya.
Jadi, meski ada cacat di awal, upaya perbaikan tengah berjalan. Yang jelas, medan bencana memang tak pernah mudah. Butuh ketepatan, dan kadang, trial and error yang cepat.
Artikel Terkait
Pemerintah Realokasi 58% Dana Desa untuk Koperasi, Proyek Infrastruktur di Sejumlah Desa Tertunda
Boiyen Resmi Gugat Cerai Suami, Akui Hanya Tiga Minggu Jalani Rumah Tangga
Mahfud MD Ungkap Lawakan Rakyat Jelang Lengser Soeharto: Petani Minta Jangan Dikenal Sebagai Penolong Presiden
Pallu Kaloa, Hidangan Khas Sulawesi Selatan dengan Kuah Kluwek Hitam yang Kaya Rempah