Operasi airdrop bantuan logistik untuk korban banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tiba-tiba jadi perhatian publik. Bukan tanpa alasan. Bantuan yang dijatuhkan dari helikopter TNI itu seperti beras dan mi instan ternyata banyak yang hancur berantakan begitu menghantam tanah.
Jarak drop-nya dinilai terlalu tinggi. Akibatnya, karung-karung beras pecah dan isinya berhamburan. Mi instan pun tak ketinggalan, remuk tak karuan. Di beberapa lokasi seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah, warga terpaksa memunguti butiran beras yang berserakan. Ada juga yang memilih membuangnya karena sudah bercampur tanah dan kotor.
Menanggapi hal ini, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengaku pihaknya sudah mengevaluasi metode tersebut. Mereka kini beralih ke sistem "heli box" dan payung udara untuk pengiriman lewat udara. Intinya, bantuan ditempatkan dalam wadah khusus yang dilengkapi baling-baling atau parasut, sehingga bisa turun lebih perlahan dan aman.
Agus menjelaskan hal itu dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (3/12).
Di sisi lain, dia tak menampik kerumitan medan yang dihadapi. Menurutnya, kondisi di lapangan seringkali memaksa keputusan cepat. Seperti ketika helikopter hendak mendarat tapi terhalang kabel listrik.
ujarnya.
Agus juga menyentil soal keselamatan personel. Ini jadi perhatian serius, menyusul insiden memilukan di Padang.
katanya dengan nada berat.
Artikel Terkait
Pengacara Desak Ayah Korban Kekerasan di Sukabumi Diperiksa, Diduga Biarkan Anak dalam Bahaya
Polisi Siapkan 10 Ruas Tol Fungsional untuk Antisipasi Macet Mudik Lebaran 2026
DPRD Sulsel dan Tim Teknis Temukan Ketebalan Aspal Jalan Hertasning Sesuai Standar
Dua Aktivis Pati Bebas Bersyarat Usai Divonis 6 Bulan Penjara