Kebodohan Negara Terbelakang (Termasuk Indonesia)
Bendera berkibar. Lagu kebangsaan dinyanyikan penuh khidmat. Tapi, setelah puluhan tahun merdeka, kehidupan warganya tetap saja sulit. Infrastruktur tertinggal, pendidikan jalan di tempat, layanan kesehatan compang-camping. Korupsi? Itu sudah seperti penyakit kronis yang tak kunjung sembuh. Polanya selalu sama. Dan setiap kali ditanya soal penyebabnya, jawabannya terdengar heroik: "Kami ingin membangun dengan cara kami sendiri."
Di sinilah letak kesalahpahaman yang fatal. Membangun bangsa ini bukan ajang lomba kreativitas, bukan eksperimen seni belaka. Ini urusan hidup-mati jutaan manusia. Namun, banyak negara terbelakang justru terlalu percaya diri. Mereka merancang sistem demokrasi, hukum, dan tata kelola versi mereka sendiri sistem yang belum pernah terbukti berhasil di mana pun. Ibaratnya, seorang pasien sakit keras menolak obat yang sudah teruji, lalu memilih racikan sendiri karena merasa "lebih cocok". Sungguh berisiko.
Sejarah mencatat, banyak negara di Afrika atau Amerika Latin terjebak dalam lingkaran ini. Mereka merdeka, lalu menciptakan sistem yang indah di atas kertas, penuh jargon kemandirian. Namun di lapangan, semuanya rapuh. Akibatnya bisa ditebak: konflik elite tak berujung, ekonomi mandek, investasi kabur, dan rakyat tetap terpuruk dalam kemiskinan. Ini bukan soal kebodohan rakyatnya. Ini soal kekakuan dan keras kepalanya sebuah negara.
Di sisi lain, lihatlah negara yang berani jujur pada realitas. Ambil contoh Tiongkok. Di awal pasca-revolusi, mereka juga mencoba jalan sendiri. Hasilnya? Pertumbuhan lambat dan kemiskinan merajalela. Hingga akhirnya, sekitar awal 1990-an, terjadi titik balik. Mereka membuka mata dan mengakui dengan jujur.
"Cara kita tidak cukup berhasil."
Lalu, apa langkah mereka? Mereka memilih untuk meniru. Bukan sekadar mencontek, tapi meniru secara brutal dan sistematis. Pintu dibuka lebar untuk modal asing. Perusahaan global diundang masuk. Mereka mempelajari segala hal: cara kerja industri, logistik, manajemen, hingga regulasi. Intinya, mereka meniru sistem ekonomi negara maju tanpa rasa malu dan tanpa drama ideologis yang berlebihan. Baru setelah paham betul, mereka mengembangkan versi lokal yang lebih efisien.
Pendekatan ini diterapkan di mana-mana: industri manufaktur, pendidikan teknik, transportasi, tata kota. Memang tidak semuanya sempurna, tapi hasilnya nyata. Ratusan juta orang berhasil keluar dari jerat kemiskinan. Ini bukan keajaiban. Ini buah dari kerendahan hati untuk belajar dari yang sudah sukses.
Sayangnya, banyak negara berkembang dan Indonesia termasuk di dalamnya masih terbelit romantisme "jalan sendiri". Kita tahu sistem kita bermasalah, tapi tetap dipertahankan. Regulasi tidak efisien, cuma ditambal sulam. Kebijakan sering gagal, tapi kita jarang bertanya hal yang sederhana.
"Negara mana yang sudah berhasil? Kenapa kita tidak meniru saja?"
Bayangkan dalam dunia medis. Adakah dokter waras yang menolak terapi standar lalu mencoba metode baru tanpa bukti pada pasiennya? Tentu tidak. Namun, dalam kebijakan publik, hal semacam itu justru sering dibanggakan. Padahal risikonya jauh lebih mengerikan. Kelinci percobaannya bukan satu orang, tapi satu bangsa utuh.
Perlu dicatat, meniru bukan berarti kehilangan jati diri. Justru, itu adalah langkah awal menuju kematangan. Semua bangsa maju pernah melalui fase ini. Jepang meniru Barat di era Restorasi Meiji. Korea Selatan meniru sistem industri dan pendidikan negara yang lebih dulu maju. Tak ada satu pun negara sukses yang lahir dari "ide orisinal murni" tanpa referensi sama sekali.
Jadi, pelajaran utamanya sebenarnya sederhana. Kebodohan negara terbelakang seringkali bukan karena kurang pintar, melainkan karena sikap angkuh yang menolak belajar dari kesuksesan pihak lain.
Selama kita masih bersikeras berjalan di jalur yang sudah jelas bermasalah, sambil menutup mata pada metode yang terbukti berhasil, maka gelar "negara berkembang" ini akan terus kita sandang. Bukan hanya untuk diwariskan ke anak cucu, tapi mungkin sampai ke cicit kita nanti.
Dan itu semua, pada akhirnya, bukanlah takdir. Itu murni pilihan.
EPW 28/1/2026
Artikel Terkait
Kementan Akselerasi Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi Antisipasi Kekeringan
Ekonom: Fungsi APBN Bergeser, Danantara Kini Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
DPR Soroti Kelemahan Sistem di Balik Kecelakaan Kereta Bekasi, Dorong Evaluasi Keselamatan Total
Trump Kecam Iran dengan Sindiran Pedas dan Gambar AI, Negosiasi Nuklir Makin Buntu