Di sisi lain, aktivitas Paryatin alias Dewi ini ternyata sudah berjalan sejak awal tahun 2024. Wilayah peredarannya luas sekali: Indonesia, Laos, Hong Kong, Korea, Brasil, hingga Ethiopia. Skala operasinya yang global itu pula yang membuat dia menjadi buronan di Korea Selatan.
“Didapatkan info benar Paryatin alias Dewi Astutik, merupakan DPO negara Korea Selatan,” kata Suyudi.
Penangkapannya pada 1 Desember lalu adalah hasil kolaborasi ketat. BNN bergerak bersama Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, dan Bais TNI. Esok harinya, dia langsung dideportasi ke Indonesia.
Dia kini diduga sebagai aktor intelektual di balik gagalnya penyelundupan 2 ton sabu pada 2025. Tak hanya itu, dia juga dikaitkan dengan beberapa kasus besar jaringan Golden Crescent di tahun sebelumnya.
Bagi BNN, ini baru pintu masuk. Penangkapan satu ini diharapkan bisa membongkar jaringan lintas negara yang koneksinya merambah hingga Afrika dan Amerika Selatan.
Sedikit cerita tentang latar belakangnya: nama aslinya adalah Paryatin. Dewi Astutik sebenarnya nama adiknya. Perempuan 42 tahun ini dulu pernah bekerja sebagai TKW di Taiwan, sebelum akhirnya berpindah ke Kamboja dan masuk ke dunia gelap narkoba.
Artikel Terkait
Tersangka Kasus Ijazah Palsu Tuntut Keadilan Proses Hukum, Sebut Ada Diskriminasi Polda
Satu Korban Ditemukan di Jurang Gunung Bulusaraung, Evakuasi Dihadang Medan Ekstrem
Taruna TNI-Polri Berlayar ke Aceh, Bantu Korban Banjir Sebelum Dilantik Jadi Perwira
Dari Puisi Rendra ke Lawakan Pandji: Kritik Sosial yang Tak Pernah Mati