Bayangkan, seorang anak SMP harus menerima kenyataan kehilangan sebelah kakinya. Angga pun terguncang hebat. Rasa malu dan syok membuatnya mengurung diri di rumah hampir sebulan penuh. Dunia terasa gelap.
Namun begitu, titik terang akhirnya muncul. Ia diperkenalkan dengan komunitas Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya, atau PERSAS. Di sana, bertemu dengan orang-orang yang punya pengalaman serupa, Angga merasa tidak sendiri lagi. Perlahan-lahan, semangat dan kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia bahkan mulai bisa melihat sisi lain dari musibahnya.
Angga kini memandang peristiwa kelam itu sebagai takdir yang membelokkannya ke jalan yang lebih baik. “Saya merasa dulunya itu bandel banget,” akunya jujur.
“Sering nongkrong sama teman-teman, tawuran. Kalau tidak ada peristiwa itu mungkin saya juga nggak akan kuliah seperti sekarang.”
Ya, itulah perubahan besar lainnya. Berkat bakatnya di sepak bola amputasi yang digelutinya bersama PERSAS, Angga berhasil mendapatkan beasiswa. Kini, ia tercatat sebagai mahasiswa di salah satu kampus swasta di Surabaya.
“Baru masuk kuliah tahun ini,” tuturnya, sorot matanya berbinar. “Masih semester 1 mau ke semester 2.”
Dari sebuah insiden salah pergaulan yang tragis, kini Angga menemukan jalan baru. Dengan satu kaki dan semangat yang jauh lebih kuat.
Artikel Terkait
Mojtaba Khamenei, Putra Pemimpin Tertinggi, Disebut Calon Kuat Penerus Kekuasaan di Iran
Pelatihan Al-Quran Isyarat Cetak Guru Baru untuk Pendidikan Inklusif
Menteri Pertahanan Israel Ancam Eliminasi Calon Pengganti Pemimpin Tertinggi Iran
Anggota Polsek Panakkukang Ditahan sebagai Tersangka Kasus Tewasnya Remaja di Makassar