Bayangkan, seorang anak SMP harus menerima kenyataan kehilangan sebelah kakinya. Angga pun terguncang hebat. Rasa malu dan syok membuatnya mengurung diri di rumah hampir sebulan penuh. Dunia terasa gelap.
Namun begitu, titik terang akhirnya muncul. Ia diperkenalkan dengan komunitas Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya, atau PERSAS. Di sana, bertemu dengan orang-orang yang punya pengalaman serupa, Angga merasa tidak sendiri lagi. Perlahan-lahan, semangat dan kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia bahkan mulai bisa melihat sisi lain dari musibahnya.
Angga kini memandang peristiwa kelam itu sebagai takdir yang membelokkannya ke jalan yang lebih baik. “Saya merasa dulunya itu bandel banget,” akunya jujur.
“Sering nongkrong sama teman-teman, tawuran. Kalau tidak ada peristiwa itu mungkin saya juga nggak akan kuliah seperti sekarang.”
Ya, itulah perubahan besar lainnya. Berkat bakatnya di sepak bola amputasi yang digelutinya bersama PERSAS, Angga berhasil mendapatkan beasiswa. Kini, ia tercatat sebagai mahasiswa di salah satu kampus swasta di Surabaya.
“Baru masuk kuliah tahun ini,” tuturnya, sorot matanya berbinar. “Masih semester 1 mau ke semester 2.”
Dari sebuah insiden salah pergaulan yang tragis, kini Angga menemukan jalan baru. Dengan satu kaki dan semangat yang jauh lebih kuat.
Artikel Terkait
Kobaran Api di Chili Tewaskan 15 Jiwa, Presiden Boric Tetapkan Status Darurat
Azwar Siregar: Dukung Prabowo, Tapi Bisa Lebih Baik Daripada Capres?
Hujan Deras Lumpuhkan Jakarta, 48 RT dan 29 Ruas Jalan Terendam
Fisika Cinta: Kisah Kikuk Mahasiswa Jenius Mengejar Hati Gadis Akuntansi