Program tiga juta rumah per tahun, yang jadi salah satu janji kampanye Presiden Prabowo Subianto, dinilai belum benar-benar menggerakkan ekonomi. Setidaknya, itulah pandangan yang disampaikan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF. Menurut mereka, dampak program itu terhadap sektor properti secara nasional masih belum signifikan.
Martin D. Siyaranamual, Kepala Divisi Riset Ekonomi PT SMF, memberikan gambaran yang cukup jelas. Kontribusi sektor real estate terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih kalah cepat dibanding pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Padahal, di negara-negara maju lain, sektor properti justru sering menjadi penopang utama.
Ujar Martin di Jakarta, Rabu (4/3) malam lalu.
Memang, program tiga juta rumah ini masih terhitung baru. Namun begitu, hingga akhir 2025 nanti, SMF memprediksi dampak positifnya terhadap kontribusi sektor perumahan bagi perekonomian belum akan terlihat.
tambahnya.
Kondisi ini tentu jadi tantangan tersendiri bagi SMF. Sebagai lembaga yang menyediakan likuiditas untuk pembiayaan perumahan, kinerja mereka sangat bergantung pada kondisi sektor keuangan secara umum. Dan situasinya saat ini kurang mendukung.
Lihat saja, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan justru melesat jauh lebih tinggi ketimbang pertumbuhan kredit. Ini sinyal yang jelas: masyarakat lebih memilih menabung dan menahan konsumsi di tengah suasana ketidakpastian ekonomi yang masih menyelimuti.
Artikel Terkait
ESG di Indonesia: Antara Komitmen Nyata dan Kelelahan akan Jargon
MKMK Nyatakan Tak Berwenang Periksa Laporan Etik Terhadap Hakim Adies Kadir
Sewa Mobil Jadi Solusi Utama Jelajahi Bali dengan Fleksibel
Komnas Perempuan Desak DPR Segera Sahkan RUU Perlindungan PRT