Banjir Rendam Mesin Jahit, Asisten Rumah Tangga di Bandung Kehilangan Napas Pencarian

- Selasa, 02 Desember 2025 | 19:54 WIB
Banjir Rendam Mesin Jahit, Asisten Rumah Tangga di Bandung Kehilangan Napas Pencarian

Selasa siang itu, Ema (48) masih terduduk lesu di halaman rumahnya. Pikirannya melayang ke hari sebelumnya, Senin, ketika air banjir tiba-tiba memenuhi ruang hidupnya. Bayangan itu masih jelas, terlalu jelas.

Perempuan asal Desa Mekar Rahayu, Kabupaten Bandung ini sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tapi ada satu kepercayaan lain yang diembannya: mengelola usaha jahit milik majikannya di kontrakan petak yang ia tempati. Sudah hampir sepuluh tahun ia bekerja di sana, hubungannya dengan sang majikan lebih dari sekadar pekerja. Itu sebabnya, mesin-mesin jahit itu dititipkan padanya. Pendapatannya ia dapat dari sistem bagi hasil setiap pekan.

Namun begitu, semua itu kini terhenti.

Banjir setinggi satu setengah meter telah merendam segalanya. Tujuh unit mesin jahit tak lagi berfungsi, basah dan diam.

"Punya majikan. Ibu teh kerja udah lama, hampir 10 tahunan, jadi udah percaya dia teh. Jadi anaknya teh nitipin mesin gitu, bukan punya ibu sendiri," ujar Ema.

"Jadi udah dipercaya ibu teh. Sekarang kena dampak ini enggak bisa maju lah. Kan itu servonya mati semua kerendam," lanjutnya dengan suara lirih.

Dampaknya langsung terasa. Ia kehilangan sumber pencarian. "Kerendam, mau dijemur gak ada panas tadi. Dibenerin kayaknya bisa, tapi kan perlu duit. Boro-boro, ada yang ngasih nasi rames tadi juga nggak ada," keluhnya.

Usaha jahit itu adalah tulang punggung utama suaminya, sementara ia menyambi sebagai ART. Sekarang, keduanya mandek. Kerugiannya ia perkirakan sudah menembus Rp 200.000 lebih sejak banjir datang.

"Kalau enggak kerja mah ini, dari kemarin sama sekarang Rp 200.000 lebih hilang," katanya.

Masalahnya bertumpuk. Di sisi lain, kewajiban tetap menganga: bayar kontrakan Rp 500.000, listrik Rp 200.000, plus biaya sekolah anak. Pikirannya kalut memikirkan itu semua.

"Jadi ibu dari tadi merenung terus-terusan apalagi ini cuaca kayak gini takut terjadi lagi gitu," kesah Ema.

Prioritasnya sekarang sederhana sekaligus sulit: mencari uang untuk bertahan hari ini. "Biarin nanti aja beres-beres, cari duit dulu buat sehari-hari itu, buat makan, belum ada banget, belum ada bantuan," ucapnya.

Harapannya sekarang sederhana. Ia berharap ada bantuan, apapun bentuknya. Persediaan beras 10 kilogram yang baru dibelinya hilang terseret arus.

"Beras enggak ketolong. Baru beli dua keresek, beli 10 kilo," kenangnya.

"Ya pengin ada, dari donatur gitu. Minimal ngasih buat nyervis gitu, gak ngasih buat makan juga gitu. Kan berharap atuh neng bantuan. Saya yang kena dampaknya yang ngontrak," pungkas Ema, menatap ke arah rumahnya yang masih berantakan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar