MURIANETWORK.COM
Banjir bandang yang melanda Aceh lebih dari seminggu lalu ternyata menyisakan pemandangan yang memilukan sekaligus memantik pertanyaan. Di Desa Menasah Lhok, Pidie Jaya, bukan hanya lumpur yang menggenang, melainkan tumpukan kayu gelondongan berukuran besar berserakan di permukiman warga.
Kayu-kayu itu, yang diduga kuat hasil perambahan hutan, terbawa arus deras banjir dan tanah longsor. Mereka berserakan di mana-mana. Dari batang seukuran lengan hingga balok besar yang butuh beberapa orang untuk mengangkatnya.
Akibatnya, jalan-jalan desa tertutup total. Beberapa rumah bahkan terkubur di bawah tumpukan material kayu dan tanah. Warga yang sudah kehilangan banyak hal kini kesulitan untuk sekadar membersihkan sisa-sisa bencana. Akses menuju desa mereka terisolasi, dipagari oleh kayu-kayu gelondongan itu sendiri.
Menurut sejumlah saksi, proses pembersihan berjalan sangat lambat. Kendala utamanya jelas: bagaimana alat berat bisa masuk jika jalannya sendiri terblokir?
Di tengah kondisi itu, suara kritis pun muncul. Ketua Yayasan Teungku Chik Pante Geulima, Makmur Hasan, tak menyembunyikan kekecewaannya.
"Kita harus introspeksi diri. Mengapa semua ini bisa terjadi? Ini tidak terlepas dari tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab,"
ujarnya di lokasi pada Selasa (2/12/2025).
Dia menyoroti lambannya respons pemerintah daerah. Bagi warga yang sedang berjuang, kelambanan itu terasa seperti penderitaan berlapis. Bencana ini, selain merenggut nyawa dan merusak infrastruktur, juga membuka borok lama: polemik perambahan hutan yang diduga jadi pemicu utama longsor dan banjir bandang.
Di sisi lain, harapan masih ada. Warga berharap pemerintah segera turun tangan secara nyata. Bukan sekadar survei, tetapi aksi konkret membersihkan material kayu dan memberikan bantuan yang menyentuh kebutuhan mendesak. Hanya dengan itu, perlahan-lahan, kehidupan di Menasah Lhok bisa kembali pulih.
Namun begitu, pemandangan kayu gelondongan di antara rumah-rumah yang rusak itu akan terus mengingatkan semua pihak tentang sebuah lingkaran bencana. Bencana alam yang diperparah oleh ulah manusia.
Artikel Terkait
Mahfud MD Kritik Upaya Kasasi atas Vonis Bebas Delpedro, Ingatkan Jiwa KUHAP Baru
Ahli: Budaya Politik Tanah Subur Penyebab Money Politics Terus Berulang
Gunung Semeru Erupsi Tujuh Kali, Kolom Abu Capai 800 Meter
SulawesiPos.com Gelar Diskusi Buku Bahas Politik Uang dan Demokrasi