"Kami minta Presiden segera mencopot Menteri ESDM," tegasnya.
Alasannya? Kebijakan perizinan tambang yang ruwet dan berbelit justru menjerumuskan. Masyarakat kecil, yang seharusnya diberi akses legal dan didampingi, malah terpaksa masuk ke jalur ilegal. Mereka menambang tanpa AMDAL yang jelas, tanpa jaminan keselamatan lingkungan. Sistemnya, kata Rafik, sama sekali tidak berpihak pada wong cilik.
Di sisi lain, sorotan juga mengarah ke Menteri LHK, Raja Juli Antoni. MAI menilai dia pun gagal mengendalikan situasi. Praktik pembalakan liar masih merajalela, merusak hutan adat dan kawasan resapan air yang vital.
Rafik menegaskan, ini soal keberlangsungan hidup bangsa.
“Kalau illegal logging terus dibiarkan, ya bencana akan berulang terus. Ini bukan sekadar salah urus. Ini kejahatan terhadap masa depan kita semua,” tandasnya.
Tekanan dari masyarakat adat ini jelas memberi warna baru pada polemik bencana ekologis di Sumatera. Mereka tak hanya menyalahkan alam, tapi menuntut pertanggungjawaban konkret dari para pemegang kebijakan di tingkat tertinggi.
Artikel Terkait
Kemendagri Tinjau Ulang Rekrutmen Kepala Daerah Usai OTT Bupati Pekalongan
Anggota DPR Desak Pemerintah Tinjau Ulang Keterlibatan Indonesia di Board of Peace
KAMMI Sulsel Desak Pengusutan Tuntas Tewasnya Remaja Diduga Ditembak Oknum Polisi di Makassar
Presiden Prabowo Gelar Silaturahmi dengan Jokowi, Megawati, dan SBY di Istana